Travelling

Warung Terapung Saksi Peradaban Sungai Musi

Sharing is caring!

Warung Terapung Saksi Peradaban Sungai Musi

Nadi kehidupan terus berdenyut di bawah Jembatan Ampera, Palembang.  Sungai Musi pun merekam setiap ragam kehidupan warga di bekas pusat kerajaan Sriwijaya. Salah satu saksinya warung kopi terapung yang menjadi saksi pesona kehidupan sungai Musi.

Aneka sumber penghidupan bagi banyak orang di sekitarnya dimiliki Sungai yang membelah Palembang menjadi dua bagian, ulu dan ilir. Harun, pemilik warung kopi terapung adalah sekian banyak orang yang yang menggantungkan kehidupannya di Sungai Musi. Setiap sore, Harun melabuhkan kapalnya di depan Benteng Kuto Besak dan Museum Sultan Mahmud Badaruddin II 16 ilir Palembang.

Sejak 2004, Harun membuka usaha warung terapung ini. Sebelumnya Harun pernah menjadi pengangkut sayur dan sopir ketek, perahu kecil untuk menyebrangkan orang dari seberang ulu ke ilir.

Karena tidak memberikan kepastian hidup, Harun pun membuka warung kopi terapung di kawasan BKB. Beruntung pemilihan lokasinya tepat karena kawasan ini memang merupakan kawasan wisata untuk menikmati wisata sungai musi.

Warung Terapung Saksi Peradaban Sungai Musi

Disebut warung kopi terapung karena cara berjualan makanan khas Palembang itu dilakukan di atas perahu dan terapung di Sungai Musi. Sensasinya ombak sungai tidak henti mengayun perahu sembari menikmati segelas kopi panas dan berbagai  hidangan makanan khas Palembang seperti pempek, bakwan, pisang goreng hingga tekwan dan model. Dan saat malam menjelang, suasana semakin bertambah romantis oleh indahnya lampu yang menghiasi jembatan Ampera dan BKB.

Bersama istri dan dua anaknya, setiap sore Harun membuka warung kopi terapung itu dari jam 4 sore hingga 9 malam. Harun pun terlihat sibuk melayani para pengunjung. Istri dan anaknya bertugas memasak makanan yang dipesan.

Tentunya membutuhkan keahlian memasak dengan kompor menyala di perahu kayu karena harus ada keterampilan menjaga keseimbangan peralatan itu karena sewaktu-waktu ombak besar bisa datang dan menumpahkan  minyak dan api bisa-bisa membakar kapal. Setidaknya 40 pengunjung datang ke warung kopi terapung milik Harun ini, setiap harinya dan pendapatannya rata-rata Rp 300.000,- per hari.

Warung Terapung Saksi Peradaban Sungai Musi

Kunikmati sajian makanan di warung terapung itu, sambil menatap ke sungai sepanjang 720 kilometer itu. Sore itu, kuambil pelajaran berharga dari seorang pak Harun. Setiap ada kemauan pasti ada jalan untuk menuju keberhasilan dan menjalani kehidupan.

Kaadal fakru ayyukuuna kufraan” Sungguh kefakiran sangat dekat pada kekufuran! 

TV journalist, traveler, writer, blogger, taekwondo-in and volunteer. Bookworm, coffee addict, chocolate and ice cream lovers

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

HTML Snippets Powered By : XYZScripts.com
Skip to toolbar