Palembang dikenal sebagai Kota Pempek. Dari restoran besar hingga gerobak sederhana di pinggir jalan, pempek menjadi bagian dari identitas kota ini.
Di antara banyak tempat menikmati pempek, ada satu fenomena yang beberapa tahun terakhir menarik perhatian publik, yaitu Pempek Tumpah.
Bagi sebagian orang luar kota, Pempek Tumpah mungkin terlihat unik. Pempek yang disajikan dalam jumlah banyak di atas meja, dipadukan dengan kuah cuko, lalu dinikmati bersama-sama dalam suasana sederhana khas pasar tradisional.
Namun bagi masyarakat yang sehari-hari berada di kawasan tersebut, Pempek Tumpah bukanlah objek wisata baru. Ia sudah lama hadir sebagai makanan rakyat.
Pempek Tumpah Lahir untuk Masyarakat Pasar
Sebelum viral di media sosial, Pempek Tumpah sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sekitar. Pembelinya bukan wisatawan atau konten kreator.
Mereka adalah:
- Pedagang pasar yang mulai berjualan sejak subuh.
- Buruh angkut yang bekerja di kawasan perdagangan.
- Sopir dan kernet angkutan.
- Penumpang speedboat yang baru turun dari daerah perairan.
- Masyarakat yang membutuhkan sarapan cepat, murah, dan mengenyangkan

Pempek Tumpah hadir karena kebutuhan. Bukan untuk dipotret. Bukan untuk menjadi objek konten. Tetapi untuk mengisi perut orang-orang yang bekerja keras setiap hari.
Ketika Pempek Tumpah Menjadi Viral
Media sosial kemudian mengubah segalanya. Video-video tentang Pempek Tumpah mulai beredar luas. Banyak influencer, travel blogger, food vlogger, hingga media nasional datang meliput.
Tempat yang sebelumnya hanya dikenal masyarakat lokal tiba-tiba menjadi destinasi wisata kuliner. Bahkan sejumlah tokoh penting pernah mencicipinya.

Mulai dari pejabat daerah, gubernur, wali kota, hingga Wakil Presiden Republik Indonesia pernah datang atau mencicipi kuliner yang viral tersebut.
Bagi para pedagang, viralitas ini menjadi berkah. Pendapatan meningkat. Pembeli bertambah.
Banyak wisatawan yang sengaja datang hanya untuk merasakan sensasi makan Pempek Tumpah langsung di lokasi.
Dari Viral Menjadi Hujatan
Sayangnya, media sosial juga memiliki sisi lain. Belakangan muncul berbagai konten yang menyoroti kondisi Pempek Tumpah dengan sudut pandang negatif.
Ada yang mengkritik kebersihannya. Ada yang mempertanyakan cara penyajiannya. Ada pula yang membuat konten bernada merendahkan hingga memunculkan stigma bahwa Pempek Tumpah adalah sesuatu yang memalukan bagi Palembang.
Kritik tentu boleh. Masukan tentu diperlukan. Tetapi yang menjadi persoalan adalah ketika kritik berubah menjadi hujatan.
Ketika konten dibuat hanya untuk mencari sensasi tanpa memikirkan dampaknya terhadap kehidupan para pedagang kecil.
Di Balik Sepiring Pempek Ada Banyak Perut yang Harus Dikenyangkan
Sering kali kita lupa bahwa di balik meja sederhana tempat Pempek Tumpah dijual, ada banyak keluarga yang menggantungkan hidupnya di sana.
Ada orang tua yang harus membiayai sekolah anaknya. Ada ibu yang harus memenuhi kebutuhan dapur setiap hari. Ada tagihan listrik yang harus dibayar. Ada cicilan yang harus diselesaikan. Ada kebutuhan hidup yang tidak bisa menunggu.
Menurut para pedagang, sebelum munculnya gelombang konten negatif, penjualan mereka bisa mencapai 700 hingga 1.000 pempek per hari.
Namun setelah berbagai video hujatan beredar, jumlah pembeli mulai menurun. Orang-orang menjadi ragu datang. Wisatawan mengurungkan niat berkunjung.
Padahal bagi pedagang kecil, berkurangnya beberapa ratus pembeli saja bisa sangat berpengaruh terhadap pendapatan keluarga.
Kritik Harus Diikuti Solusi
Jika memang ada masalah kebersihan, maka solusinya bukan membunuh usahanya. Solusinya adalah pembinaan.
Setelah Pempek Tumpah viral dan menjadi ikon wisata kuliner rakyat, seharusnya berbagai pihak hadir memberikan pendampingan.
Dinas Kesehatan
Memberikan edukasi mengenai:
- sanitasi makanan,
- keamanan pangan,
- penggunaan alat makan yang higienis,
- standar kebersihan lokasi usaha.
Dinas Koperasi dan UMKM
Membantu pedagang:
- meningkatkan kapasitas usaha,
- memperbaiki kemasan,
- mengakses permodalan,
- memperkuat kelembagaan pedagang.
Dinas Perdagangan
Membantu penataan kawasan agar lebih nyaman bagi pembeli tanpa menghilangkan karakter khasnya sebagai kuliner rakyat.
Karena tujuan pembangunan UMKM bukan menghilangkan pedagang kecil, tetapi membantu mereka tumbuh menjadi lebih baik.
Tidak Semua Kuliner Harus Seperti Restoran Bintang Lima
Ada satu hal yang perlu dipahami. Pempek Tumpah lahir dari budaya pasar rakyat. Karakternya memang berbeda dengan restoran modern.
Jika semua kuliner tradisional dipaksa menjadi steril, mewah, dan seragam, maka kita justru kehilangan identitasnya.
Di banyak negara, kuliner kaki lima bahkan menjadi daya tarik wisata utama. Thailand memiliki street food. Vietnam memiliki warung kaki lima. Malaysia memiliki hawker center. Indonesia pun memiliki kekayaan kuliner rakyat yang menjadi bagian dari budaya.
Yang perlu diperbaiki adalah kualitas dan kebersihannya, bukan menghapus keberadaannya.
Jangan Mematikan Rezeki Orang
Media sosial memiliki kekuatan besar. Satu video bisa mendatangkan ribuan pembeli. Tetapi satu video juga bisa membuat orang kehilangan penghasilan.
Karena itu setiap kreator konten memiliki tanggung jawab moral atas apa yang dipublikasikannya. Bukan berarti tidak boleh mengkritik. Bukan berarti harus menutup mata terhadap kekurangan.
Namun kritik yang baik adalah kritik yang menghadirkan solusi. Bukan sekadar mempermalukan. Bukan sekadar mengejar viral. Bukan sekadar mencari engagement.
Sebab di balik konten yang kita unggah, ada kehidupan nyata yang terdampak. Ada keluarga yang bergantung pada usaha tersebut. Ada dapur yang harus tetap ngebul setiap hari. Ada anak-anak yang harus tetap sekolah. Ada orang tua yang harus tetap makan.
Pempek Tumpah Adalah Bagian dari Cerita Palembang
Pempek Tumpah mungkin bukan tempat makan yang sempurna. Tetapi ia adalah bagian dari denyut kehidupan masyarakat Palembang. Ia tumbuh dari budaya pasar. Dari kerja keras pedagang kecil. Dari tradisi kuliner yang telah berlangsung bertahun-tahun.
Jika ada yang perlu diperbaiki, mari diperbaiki bersama. Jika ada yang perlu dibina, mari dibina. Jika ada yang perlu ditingkatkan, mari ditingkatkan.
Namun jangan sampai kritik yang tidak bijak justru menutup pintu rezeki orang lain. Karena membangun jauh lebih mulia daripada menghancurkan. Dan membantu UMKM naik kelas jauh lebih bermanfaat daripada membuat mereka kehilangan pelanggan.
Di balik setiap pempek yang terjual, ada harapan yang dibawa pulang ke rumah. Jangan sampai harapan itu hilang hanya karena sebuah konten yang mengejar viral tanpa memikirkan dampaknya bagi kehidupan banyak orang.


