Event

Naga Putih Vhrnikadi

Sharing is caring!

Saya mencoba kemampuan menulis fantasi, sesuatu yang memang hingga saat ini selalu disembunyikan. Jika saya suka menulis fantasi dengan karakter unik. Entahlah, apakah karya ini akan diterima atau tidak, yang pasti karya ini diikutsertakan dalam Fantasy Fiesta 2011.

 

NAGA PUTIH VHRNIKADI

Suzannita

Naga Putih Vrhnikadi
Naga Putih Vrhnikadi

 

Ada legenda dilembah Vrhnikadi jika kau bertemu dengan Naga Putih, artinya kau terpilih memimpin negeri ini. Naga putih diyakini selalu melindungi negeri kami dari segala ancaman, bahkan mereka menyakini jika Naga Putih adalah penyelamat, pelindung dan penguasa alam Vrhnikadi. Entah bagaimana legenda ratusan tahun itu tetap dipercaya dan diyakini dengan begitu kuat oleh para penduduk lembah.

Aku hanya mendengar cerita yang melegenda dari kakekku jika nenek moyang kami adalah pemimpin bagi seluruh rakyat Vrhnikadi. Pemimpin Vrhnikadi adalah laki-laki, tak ada pemimpin perempuan, dan aku terlahir sebagai perempuan. Aku satu-satunya perempuan yang terlahir dikeluargaku, dan tak ada yang mengetahui jika aku perempuan, karena identitasku disembunyikan sejak aku lahir ke dunia.

Aku adalah Valvasor, dan aku adalah pemimpin negeri ini. Saat takdir tak dapat dipungkiri, saat nasib menentukan jalannya sendiri. Inilah kisahku, Naga Putih Vrhnikadi.

***

“Apa dia sudah lahir?” tanya Pangeran Jacques.

“Belum, Jacques , Louise sedang berjuang, bayinya sulit keluar karena terlilit tali pusar dan posisinya sungsang”, jawab Raja Melanophore.

Waktu berjalan lambat, detik demi detik seolah tak bergerak hanya diam ditempat. Tak terhitung berapa kali Pangeran Jacques mondar mandir didepan kamarnya menantikan kelahiran anak pertama dan calon penerusnya.

“Ayah, apakah ramalan dari peramal itu akan menjadi kenyataan, jika anak yang dikandung dan akan dilahirkan Louise adalah perempuan”, lanjut Pangeran Jacques.

Raja Melanophore menjawab “kita hanya menjalani kehidupan ini saja, karena sudah ada yang menentukan apa yang kita terima dan jalan yang kita lalui”.

Keheningan kembali mencekam, ketegangan semakin bertambah meski bulan sedang bulat sempurna namun tak memberikan sedikitpun bantuan mengikis kecemasan.

“Hoaaeee.. Hoaaeee… Hoaaeee…” suara tangis keras bayi memecahkan keheningan dan ketegangan.

Salah satu pelayan keluar dari kamar dan memberikan hormat “ Raja Melanophore, Pangeran Jacques, bayinya sudah lahir, ucap sang pelayan.

Raja Melanophore dan Pangeran Jacques mengikuti pelayan memasuki kamar megah dengan hiasan kristal dan emas di sepanjang lorong kamar. Tak berapa lama mereka pun memasuki ruang utama kamar tersebut.

Pangeran Jacques langsung menghampiri istrinya, seraya sambil membelai dan berkata “Sayang, kau baik-baik saja…”

“Kenapa kau menangis? “ pertanyaan Pangeran Jacques itu hanya membuat Louise, istrinya menangis semakin tersedu. Pangeran Jacques pun langsung memeluk istrinya dan menepuk perlahan punggung istrinya.

“Maafkan aku sayang, aku gagal melahirkan pemimpin negeri ini, anak kita… anak kita…“ Louise tertahan melanjutkan perkataannya.

Tiba-tiba Raja Melanophore menghampiri kedua pasangan tersebut sambil menggendong bayi mungil yang sudah dimandikan dan berbalut selimut beludru berwarna merah keemasan.

“Jacques, ini anakmu… lihatlah dia sangat kuat dan terlihat hebat seperti kau saat lahir, pesonanya sangat luar biasa seperti Louise” ucap Raja Melanophore.

Pangeran Jacques menoleh dan terdiam mendengarkan ucapan ayahnya tersebut. Laki-laki berbadan tegap itu pun tak bergeming di atas tempat tidur. Raja Melanophore langsung menyerahkan bayi mungil berkulit putih kemerahan itu kepada Pangeran Jacques. Tak kuasa menahan haru, bayi itu pun langsung dipeluk.

Ramalan Anguinis, peramal kerajaan Vrhnikadi itu pun terbukti, anaknya adalah perempuan. Namun demi menjaga rahasia, malam itu seluruh pelayan di kamar itu diberikan peringatan untuk menjaga aib itu seumur hidup. Karena tak pernah ada perempuan yang lahir dari garis keturunan darah biru Vrhnikadi. Dan sejak itulah, kehidupan sang bayi menjadi milik orang lain bukan menjadi miliknya sendiri.

Louise akhirnya meninggal dunia pada pagi harinya. Kebahagiaan dan kedukaan itu berjalan seiring, disaat kebahagiaan Vrhnikadi menerima hadirnya bayi, disaat itu pula kebahagiaan terenggut oleh kematian. Pemakaman dilakukan dengan syahdu, perahu membawa mayat Louise ketengah danau Urodele. Pangeran Jacques sambil menitiskan air mata melepaskan anak panah dengan ujung berapi dari busur hingga menancap di kapal dan membakar kapal serta Louise. Penduduk Vrhnikadi memang percaya jika kehidupan itu berawal dan berakhir di laut. Saat mayat dibakar ditengah danau, abunya akan mengalir dan kembali ke lautan.

***

“Valvasor, jangan berlari terus, nanti kau jatuh, kakek sudah tidak kuat mengejarmu“, Raja Melanophore berteriak sambil berusaha mengejar Valvasor yang terus melesat bak anak kijang yang berlari lincah mengitari lembah Vrhnikadi.

“Kakek, ayo kejar dong, masak tidak kuat mengejarku, aku kan hanya anak kecil” Valvasor semakin jauh meninggalkan kakeknya.

Sejak kecil aku dibesarkan oleh Kakek dan Ayah, karena dalam garis keturunan keluarga, perempuan akan selalu meninggal saat melahirkan calon pemimpin negeri, seperti itulah yang terjadi terhadap nenek buyut hingga ibuku yang meninggal usai melahirkan. Tak ada yang tahu kenapa hal itu terjadi, tapi banyak yang berkata itu adalah harga yang harus dikeluarkan karena melahirkan seorang pemimpin negeri. Pengorbanan yang diberikan untuk negeriku.

Setiap hari bibi Qirki, pelayanku sejak bayi, selalu membebat dadaku hingga rata dan mengikat rambutku dan memasangkan rambut palsu yang khusus dibuat untukku. Rambut pendek itu membuatku semakin terlihat seperti anak laki-laki. Aku pernah bertanya kenapa mereka melakukan hal tersebut kepadaku, namun bibi Qirki hanya berkata agar aku menanyakan hal tersebut kepada kakek ataupun ayahku.

Aku sangat mencintai lembah, hutan dan danau Vrhnikadi, betapa negeri ini sangat kaya. Saat kau bergerak ke dalam hutan, jauh kedalam hingga naik ke puncak gunung Btrua, kau akan menemukan pohon kristal cantik yang berkilau. Negeri ini, memiliki puncak es abadi yang menjadikan pepohonan sekitarnya menjadi kristal abadi pula. Jika kau kikis dinding dari bukit di Vrhnikadi yang kau temukan ada berlian indah yang tak ternilai harganya. Karena negeri ini dikelilingi bukit berlian. Atau saat kau menyelam kedalam danau Urodele, kau akan melihat begitu banyak mutiara berkilau, danau itu akan semakin bercahaya saat tertimpa sinar mentari dan cahaya rembulan.

Kakek selalu berpesan agar aku selalu menyayangi alam seperti dirimu sendiri. Saat kau mencintai alam, saat itu juga alam akan memberikan cintanya kepadamu. Namun jika kau membenci dan merusak alam, maka kau akan tinggal menunggu alam murka dan memberikan balasan atas setiap perbuatanmu. Nasehat kakek semakin terpatri didalam hatiku, dengan melihat dan merasakan keindahan alamku bak surga dunia yang begitu indah dan tak tergantikan dengan apapun.

“Hey, Valvasor, kenapa kau melamun”, tanpa kusadari kakek sudah disampingku.

“Ah, tidak kek, aku hanya memandangi danau itu saja, rasanya semakin lama semakin cantik saja kek, seolah aku ditarik kedalam danau tersebut. Sebenarnya didalam danau itu ada apa ya kek” aku menoleh kepada kakek meminta penjelasan.

“Suatu saat kau akan mengerti kenapa kau seperti ini, tapi jawabannya tidak sekarang” jawab kakek.

“Apakah memang karena legenda naga putih kek”, rasa penasaran tak menyurutkanku untuk menggali jawaban dari kakek.

Kakek hanya diam seribu bahasa, aku memang berulang kali menanyakan pertanyaan itu dan kakek selalu memberikan jawaban yang sama.

Tiba-tiba ada layang-layang besar berada tepat diatas kami, jaraknya 3000 kaki diatas , tapi layang-layang itu terlihat sangat besar. Kakek langsung berdiri dan menarik tanganku seraya berkata, “ayo kita pulang segera”.

“Kakek, ada apa? Benda apa itu kek, yang melayang diatas kita, kenapa aku tidak pernah melihatnya kek”, aku bertanya.

“Kek, apa itu?” kembali aku bertanya.

Kakek diam dan terlihat raut wajahnya sangat tegang, aku tidak pernah melihat kakek demikian tegang dan cemas.

***

Tiba di istana Vrhnikadi, kakek langsung mengantarkanku kekamar dan berkata kepada Bibi Qirki, aku tidak begitu jelas mendengar percakapan mereka. Yang aku tahu, bibi Qirki langsung mengemasi pakaian kedalam tas kain dan mengajakku ikut bersamanya.

Ayah menghampiriku dan memelukku begitu erat dan berkata “Ayah sangat menyayangimu dan sangat bangga memiliki anak sepertimu, lindungilah negeri ini dan rakyatmu”. Aku hanya diam sambil membalas pelukan ayah dengan sangat erat seolah tak ingin melepaskannya.

Kakek pun melakukan hal yang sama “Naga putih akan datang kepadamu dan kau akan melindungi Vrhnikadi, kami percaya kepadamu nak”. Aku semakin bingung betapa semua pertanyaan membuat kepalaku semakin penuh sesak, namun bibirku keluh untuk mengeluarkan semua uneg-unegku.

Kereta putih itu membawaku dan bibi Qirki melaju meninggalkan tanah kelahiranku. Aku hanya terdiam kebingungan duduk didalam kereta, sambil menoleh kebelakang kulihat kakek dan ayah diikuti para jenderal dan dewan kerajaan masuk kedalam balairung besar tempat pertemuan yang hanya digunakan untuk keputusan darurat.

“Apakah sebenarnya yang terjadi pada negeriku, Tuhan… Tolong lindungi Kakek, Ayah dan negeriku” ucapku dalam batin.

Ternyata bukan hanya aku dan bibi Qirki yang pergi dari Vrhnikadi, di sepanjang jalan kulihat petani, anak-anak, ibu dan nenek juga terlihat terburu-buru meninggalkan bumi Naga Putih. Wajah-wajah cemas dan tangis mengiringi kepergian kami.

***

Aku terdiam didepan lukisan didepanku, goresan kuas diatas kanvas yang terbuat dari kulit domba itu membuat ingatanku terlempar jauh ke tanah kelahiranku. Aku kangen kakek, ayah, tanah, lembah, hutan dan danau tempatku bermain. Usiaku 5 tahun saat semua kebahagiaan itu kembali terenggut dari hidupku. Kini usiaku 20 tahun artinya 15 tahun berlalu sejak aku dan bibi Qirki pergi dari Vrhnikadi.

Kini kami tinggal di tempat yang sama indahnya dengan negeriku. Kastil yang menjulang itu terlindung diantara dinding batu dan pepohonan, hutan membungkus tempat kami tinggal. Hawa pegunungan, wangi rumput dan pepohonan diiringi kicauan burung membuatku semakin bersemangat menikmati indahnya alam. Kami tidak pernah kekurangan makanan, bibi Qirki memelihara ayam, domba, hingga sapi. Bahkan bibi Qirki memenuhi halaman dengan aneka jenis sayuran dan buah.

Bibi Qirki selalu mengatakan jika nasib dan takdirku tidak dapat diubah, karenanya kini aku menjelma menjadi gadis yang cantik, demikian yang dikatakan bibi Qirki. Rambutku berkilau kuning keemasan ditambah mataku berwarna hijau seperti jamrud didalamnya lautan. Meski sebagai gadis cantik, aku ahli memainkan busur dan panah, pedang, berkuda hingga memanjat dan berlari di udara. Aku paling suka berlari di udara, karena aku seperti terbang tanpa sayap.

“Bibi, apakah disini hanya tinggal kita berdua”, aku menghampiri perempuan tua yang sedang memasak itu.

“Iya putri Valva, kita disini hanya tinggal berdua, ada apa? ” bibi Qirki menoleh.

“ Tidak apa-apa, aku hanya merasa masih ada mata yang melihatku, mata yang sama seperti saat aku tinggal di Vrhnikadi”, aku menjawab sambil termenung.

“Tuan putri akan mengetahuinya saat tepat berusia 21 tahun, itu artinya 3 hari lagi dari sekarang, takdir putri akan berubah selamanya”, bibi Qirki menjawab pertanyaanku sambil mengaduk sup kacang merah.

Aku beranjak meninggalkan kursi didapur, “Tuan putri mau kemana, makan malam akan siap dalam 10 menit lagi”, tanya bibi Qirki.

“Ah, tidak… aku hanya ingin kekamar sebentar, nanti aku akan turun kembali dalam 10 menit” aku menjawab dan berlalu.

Kutapaki tangga demi tangga naik menuju kamarku yang terletak di lantai dua kastil. Memang kastil tak sebesar kastil tempat tinggalku di Vrhnikadi, namun aku tetap merasa kesepian. Aku hanya ditemani lukisan yang kulukis di dinding kamar, lantai ataupun ruang yang tersisa dikamar. Aku memang selalu kehabisan kanvas domba buatan bibi Qirki. Karena memang kami hanya makan daging domba dalam dua bulan sekali. Daging yang begitu besar bisa bertahan 2 bulan lamanya dengan pengawetan khas ala bibi Qirki, yakni mengasapi daging tersebut sehingga bisa awet berbulan-bulan lamanya.

Aku mendorong pintu jendela kastil dan kulihat keluar, meski dikelilingi dinding batu dan pepohonan, namun karena kastil dibangun dibagian tertinggi dari lembah ini, aku bisa melihat lautan yang berkilau diujung mataku ataupun taburan bintang di angkasa. Dan semuanya tertuang ke dalam lukisanku. Kuamati lukisanku yang semakin terlihat hidup dan nyata. Aku berpikir kenapa lukisan ini menjadi semakin nyata dan indah sekali. Seolah aku berada di alam lukisan tersebut.

***

Aku tidak pernah mengetahui jika semuanya akan berubah. Ternyata bibi Qirki sedang menantikan perubahan itu. Tiga hari berlalu dengan begitu cepat, dan tepat malam ini aku berusia 21 tahun, sejak sore bibi Qirki tak kulihat batang hidungnya. Aku hanya menghabiskan hariku dikamar sambil menyelesaikan lukisan negeriku Vrhnikadi. Kastil, halaman, gunung, hutan dan danau semakin terasa nyata hingga membuatku ingin menabrak dinding kamarku. Aku tinggal menyelesaikan jalan yang pernah kutapaki, seolah aku tahu jalan keluar dari tempat tinggal kami menuju Vrhnikadi.

Tok… tok… tok… Pintu kamarku diketuk dari luar dan terdengar suara bibi Qirki dari luar “Putri Valva boleh saya masuk”.

“Ya, masuk saja bibi, pintunya tidak dikunci” aku menjawab seadanya.

Bibi Qirki masuk kedalam kamar sambil membawa kotak emas berukir yang sungguh indah. Kotak itu pun diletakkan dihadapanku.

“Putri Valva, boleh saya bicara”, bibi Qirki memandangku dalam-dalam.

Aku hanya mengangguk dan duduk didepan bibi Qirki .

“ Kini saatnya sudah tiba, tepat pukul 12 malam ini, jawaban atas setiap pertanyaan putri sejak masa kecil dan takdir tuan putri pun akan terbuka menuju jalan kebenaran” bibi Qirki terdiam dan kembali melanjutkan perkataannya.

“Putri Valva inilah takdirmu, didalam kotak ini kau akan menemukan jawaban” bibi Qirki menyerahkan kotak tersebut kepadaku.

Aku pun menerima kotak emas berukir dan membukanya, aku melihat bola kristal berwarna biru dengan seberkas cahaya putih didalamnya. Kupegang bola kristal itu dan tiba-tiba bola itu bersinar terang. Aku yang merasa terkejut langsung meletakkan kembali bola tersebut kedalam kotaknya.

“Jangan takut tuan putri, sebentar lagi tepat pukul 12 tepat, putri akan mendapatkan kehidupan baru. Takdir tak dapat dipungkiri, putri Valva cukup menggenggamnya saja” bibi Qirki berusaha menyakinkanku.

Jam berdentang sekali yang berarti waktu sudah memasuki jam 12 malam.

“Tuan putri, setelah ini genggamlah takdir dan jalan hidupmu, lindungi Vrhnikadi dan rakyatnya, semua orang sedang menantikan kehadiran tuan putri untuk menyelamatkan mereka dari kegelapan” sambung bibi Qirki.

Aku hanya diam menatap dalam bola kristal yang berada didalam kotak emas itu. Aku menarik napas dalam, mengambil perlahan bola tersebut dan menggenggamnya. Tiba-tiba suara guntur bergemuruh saling bersahutan, kilat menyambar, angin berhembus semakin kencang, membuat tirai kamarku berkibar-kibar. Sementara bola dalam genggamanku semakin bersinar terang dan menyatu masuk kedalam pori-pori telapak tangan, mengalir kedalam darahku, hawa panas pun merasuk kedalam ragaku.

Aku masih melihat bibi Qirki memandangku begitu dalam. Dan tiba-tiba aku terbang, aku naik dan naik hingga menyentuh langit-langit kamarku. Aku pun bergerak menuju jendela dan keluar dari kamarku. Tanpa bisa kuhentikan aku terus melesat, terbang diangkasa diterpa sinar rembulan, aku semakin menjauh dari tempat tinggalku.

Tubuhku semakin tak bisa kukuasai, tak kurasakan dingin angin malam yang menusuk, badanku hangat dan aku menikmati bisa terbang. Kulintasi hutan, pegunungan, malam pun semakin larut, hingga aku berhenti sebuah danau. Aku turun dan berjalan menuju ke pinggir danau, aku haus dan aku ingin minum menghilangkan rasa dahagaku.

Betapa terkejutnya saat kulihat wajahku diatas permukaan air danau yang dipantulkan oleh cahaya rembulan. Aku mundur beberapa langkah dan berteriak, sayangnya bukan suara yang kukeluarkan namun api yang kusemburkan dari mulutku.

“Aaaagggrrrhhhh… apakah yang terjadi kepadaku, kenapa aku seperti ini, Tuhan bantu aku berikan penjelasan tentang apa yang terjadi pada diriku”, batinku berteriak.

Aku kembali bergerak mendekati tepian danau dan memandang wajahku. Dibawah sinar rembulan kulihat jelas perubahan yang terjadi pada diriku. Aku berubah menjadi seekor naga, ya naga putih seperti legenda yang diceritakan dan dipercayai selama ratusan tahun dinegeriku.

“Apakah ini semua jawaban atas semua pertanyaan itu, aku harus melindungi negeri dan rakyat Vrhnikadi, seperti naga putih yang selalu menjadi penyelamat, pelindung dan penguasa alam Vrhnikadi” pikiranku berkelana saat kakek menceritakan legenda naga putih kepadaku.

Kulihat seberkas cahaya putih menghujam kedalam danau, tak kusia-siakan waktu, aku langsung bergegas menuju ketengah danau. Dan kuyakini inilah danau Urodele, ya inilah negeriku Vrhnikadi. Aku telah kembali ke negeriku, takdirku menuntunku kembali kesini.

***

Sinar matahari menyengat kulitku, saat kurasakan sebuah tongkat menyentuh tubuhku. Dan sayup-sayup kudengar suara.

“Dia masih hidup, lihat dia masih hidup… kenapa gadis ini ada disini, tubuhnya basah, apakah dia terdampar didanau Urodele”.

Kubuka mataku dan kulihat samar-samar sepasang manusia didepanku. Keduanya terlihat sudah berusia lanjut diatas 60 tahun.

“Ayo kek, kita bawa ke rumah, dia harus kita tolong, sebelum kondisinya bertambah parah” ajak sang nenek.

Kakek itu pun langsung memanggul tubuhku dan memindahkanku keatas gerobak. Keduanya langsung naik dan keledai pun menarik gerobak yang kutumpangi itu. Aku hanya melihat langit begitu biru, matahari bersinar tepat diatasku. Aku tak bisa mengingat apapun yang membuatku tak sadarkan diri dipinggir danau. Yang kuingat aku berubah menjadi naga putih dan bergerak kedalam danau saat kulihat cahaya menghujam tepat ditengah danau.

Kupegang tubuhku, kusentuh mukaku, tak ada lagi guratan dan kulit keras naga putih, aku kembali berubah menjadi manusia. Aku pun mengucapkan syukur dan aku kembali pingsan.

Saatku tersadar, aku sudah berada didalam sebuah kamar, tubuhku diselimuti dan aku sudah berganti pakaian. Tak lama kemudian, sang nenek masuk kedalam sambil membawa secangkir susu hangat dan roti gandum.

“Kau sudah sadar nak”, sapa sang nenek.

Aku hanya mengangguk dan sedikit tersenyum kepadanya.

“Coba kau makan ini dulu, sebagai pengganti tenagamu” nenek yang berwajah tenang itu menyodorkan makanan kepadaku.

Usai makan, aku pun keluar dari kamar dan menyapa pasangan kakek nenek yang menyelamatkanku tersebut. Kakek Proteus dan Nenek Trasheria pun bercerita tentang Vrhnikadi yang kini berubah menjadi kering dan tandus. Tak ada lagi pepohonan, air danau mongering, puncak salju semakin terkikis tak bersisa.

Peperangan yang terjadi telah merenggut nyawa kakek dan ayah. Vrhnikadi kini dipimpin oleh Anguinis, peramal kerajaan itu berkhianat. Dia marah karena penerus kerajaan adalah perempuan. Aku hanya diam mendengarkan kakek Proteus dan nenek Trasheria bercerita “ternyata rakyatku sudah mengetahui jika aku adalah perempuan” pikirku.

“Kakek, nenek, aku akan merebut kembali Vrhnikadi dari tangan jahat Anguinis”, ucapku.

Keduanya pun langsung terdiam dan memandangku dalam-dalam.

“Kamu siapa sebenarnya nak?” tanya kakek Proteus.

“Aku sebenarnya Valvasor, penerus kerajaan yang merupakan seorang perempuan itu” jawabku.

Tiba-tiba keduanya langsung bersimpuh dan memberikan hormat kepadaku. Aku terkejut dan buru-buru mengangkat tubuh keduanya.

***

Setelah satu purnama berlalu di Vrhnikadi dan menyusun strategi. Aku memutuskan menyerang Anguinis. Menjelang purnama aku bergegas ke danau Urodele, disanalah aku akan berubah menjadi naga putih dan memberikan balasan kepada Anguinis. Kutatap danau Urodele dan kulihat seberkas cahaya menghujam ke tengah danau. Aku pun bergegas kedalam danau. Saat danau diam tak beriak, aku melesat keluar menuju kerajaan Anguinis.

Sesaat terbang aku pun bertengger di atas benteng, dan kusemburkan hawa panas dari mulutku. Prajurit Anguinis pun kocar kacir. Semuanya bergerak, berlarian mengeluarkan senjata dan menyerangku. Aku pun terbang beralu menuju kerajaan. Kudapati Anguinis didepanku, sebagai peramal dia sudah mengetahui kedatanganku.

Anguinis berteriak sambil berkacak pinggang “Valvasor, kau masih hidup, ternyata kau masih berumur panjang padahal berulang kali kau kucelakai tapi tetap saja kau hidup”.

Aku diam, dadaku bergemuruh, kutatap Anguinis dengan tajam. Tiba-tiba Anguinis mengeluarkan senjata dan menyerangku. Malam itu menjadi peperangan besar, tanpa kusadari ternyata kakek Proteus dan nenek Trasheria mengumpulkan rakyat Vrhnikadi dan ikut menyerang kerajaan Anguinis.

Pertarungan dengan Anguinis terus berlanjut hingga menjelang fajar, saat aku terpojok dipinggir kastil, Anguinis berlari hendak mendorongku, aku pun melompat. Disaat itulah Anguinis terlempar dan jatuh dari atas kastil. Anguinis tewas bersimbah darah tertancap diatas tombak. Perangku pun berakhir, matahari pagi menerpaku dan aku kembali menjelma menjadi manusia. Seluruh rakyat Vrhnikadi bersorak, dan ajaib Vrhnikadi kembali seperti semula.

***

“Bagaimana ceritanya, menarik bukan?” ucap kakek menutup cerita kami.

“Kakek, aku ingin menjadi Valvasor, aku ingin menjadi naga putih Vrhnikadi” kutatap kakek dengan serius.

Kakek hanya memandangku dan menggengam jemariku erat-erat.

TV journalist, traveler, writer, blogger, taekwondo-in and volunteer. Bookworm, coffee addict, chocolate and ice cream lovers

3 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

HTML Snippets Powered By : XYZScripts.com
Skip to toolbar