Romansa Bali "Desa Tenganan" Tempo Dulu

Sharing is caring!

Jangan pernah melupakan sejarah. Itulah kata – kata bijak yang akan selau mengingatkan darimana kita berasal, dan seperti apa asal usul kita.

Karena hal tersebut, dalam perjalanan saya bersama teman – teman berkunjung ke Desa Tenganan atau Tengan Pegeringsingan, salah satu dari sejumlah desa kuno di Bali yang dikenal dengan sebutan Bali Age / Asli.

Pola kehidupan masyarakat Tenganan seperti pola perkampungan, struktur komunikasi sistim ritual merupakan suatu yang amat unik. Desa Tengganan terletak di antara perbukitan, termasuk kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem.

Untuk memasuki desa Tenganan sangatlah unik, sebelum masuk ke area Desa Tenganan. Kita akan melalui sebuah loket, disitu kita tidak diharuskan membayar. Memang karena tidak ada tiket/karcis yang dijual, tapi kita memberikan sumbangan sukarela berapa saja seikhlas kita ke petugas dibangunan kayu yang semipermanen, sebelum masuk wisatawan harus melalui gerbang yang cukup sempit yang hanya cukup dilewati oleh satu orang.

Masyarakat dan kebudayaan Tenganan merupakan tempat yang kaya bagi kajian ilmu antropologi, arkeologi, hukum adat sejarah dan sastra degan penduduk kurang lebih 550 jiwa.

Desa ini sangatlah tradisional karena dapat bertahan dari arus perubahan jaman yang sangat cepat dari teknologi. Walaupun sarana dan prasarana seperti listrik, telpon masuk ke Desa Tenganan ini, tetapi rumah dan adat tetap dipertahankan seperti aslinya yang tetap eksotik.

Ini dikarenakan Masyarakat Tenganan mempunyai peraturan adat desa yang sangat kuat, yang mereka sebut dengan awig-awigyang sudah mereka tulis sejak abad 11 dan sudah diperbaharui pada Tahun 1842.

Desa Tenganan tetap saja berdiri kokoh tidak peduli dengan perubahan jaman dengan tetap bertahan dengan tiga balai desanya yang kusam dan rumah adat yang berderet yang sama persis satu dengan lainnya.

Dan tidak hanya itu didesa ini keturunan juga dipertahankan dengan perkawinan antar sesama warga desa. Oleh karena itu Desa Tenganan tetap tradisional dan eksotik, walaupun Masyarakat Tenganan menerima masukan dari dunia luar tetapi tetap saja tidak akan cepat berubah, karena peraturan desa adat /awig-awig mempunyai peranan yang sangat penting terhadap masyarakat Desa Tenganan.

Penduduk Desa Tenganan menjual hasil kerajinan tangannya ke turis seperti anyaman bambu, ukir-ukiran, lukisan mini yang diukir diatas daun lontar yang sudah dibakar, dan yang paling terkenal adalah kain geringsing.

Walaupun banyak wisatawan yang semakin lama semakin banyak untuk datang didesa ini, namun sayang belanja suvenir mereka masih kurang, begitupun kami, karena barang – barang yang dijual dengan keahlian khusus ini agak mahal di kantong kami. Hihihihihi… ngeles nih! padahal maksudnya tidak punya uang.

Berada di desa ini kita merasakan suasana yang aman dan damai, para penduduk desanya yang sangat ramah dan bersahabat. Kita dapat berkeliling areal desa tersebut dan menyaksikan aktivitas mereka sehari hari.

25 comments

  1. suzannita Reply

    Nanti saya ke Bali lagi dan kita kopdaran ya… masih banyak tempat yang belum dikunjungi di Bali, belum ke Bedugul, Nusadua, dan naik Gunung Agung ^..^

    • Desi Namora Reply

      Asri banget itu suasana desanya ya Mba. Nyaman gt. Klo ngomongin beli souvenir, emang ksg harganya terlalu mahal buat kantong ya Mba hehe. Tp bersyukur maasih ada aja wisatawan yg dtg

  2. indra kh Reply

    Adakah pembatasan jumlah keluarga di Tenganan? Misalnya untuk satu keluarga penduduk asli hanya boleh mewariskan 1 rumah yang boleh dihuni, sedangkan sisa anggota keluarga yang lainnya harus tinggal di luar Desa Tenganan.

  3. Nia K. Haryanto Reply

    Bali itu memang setiap sudutnya menakjubkan ya. Ya pantainya, lautnya, gunungnya, adat budayanya, sawahnya, bahkan desa tradisionalnya kayak Desa Tenganan ini. Huhuhu… kujadi kangen Bali 😀

  4. Tori Reply

    Desa Tenganan ini jd salah satu desa wisata ya , suka bgt sama suasana desa yg terjaga ketradisional an nya ini. Dan adat istiadat yg selalu dipegang.

  5. artha Reply

    kerajinan tangan memang mahal kak. karena unik, tak ada yg hasilnya bs sama persis dan pembuatannya butuh waktu yg tak singkat. yap kalau mau murah biasanya yg kecil, yg biasanya saya mampu beli juga. hehe

  6. Rach Alida Reply

    JAdi pengen ke desa ini mba. Terasa banget lebih nyaman dan tenang. Moga ke depan kerajinannya semakin banyak dan bagus-bagus ya mba 🙂

  7. Lily Kanaya Reply

    Wisata tempo dulu kayak gini memang selalu mengasyikkan menurutku mba , karena kita bisa melihat kehidupan jaman dulu di depan mata langsung

  8. Dwi Puspita Reply

    Pengen banget ke desa Tenganan, melihat masyarakat disana dan lingkungannya yang bener-bener damai dari hiruk pikuk. Mungkin masyarakat disana sangat tenang dengan lingkungan yang damai seperti itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.