Pengadilan “Kertagosa” Zaman Dulu

Sharing is caring!

Abadikanlah momen berharga dalam sebuah foto ternyata juga sudah dikenal di zaman dahulu kala, jauh sebelum kamera foto dikenal. Begitu banyak peninggalan dan cerita yang bisa kita saksikan dari gambar yang tertera di batu ataupun prasasti.

Hal itu juga terangkum pada Kertagosa salah satu objek wisata yang terletah di tengah – tengah Kota Kabupaten Klungkung, Bali, kira-kira 40 km ke arah timur dari Denpasar.

Kerta Gosa adalah suatu bangunan (bale) yang merupakan bagian dari bangunan komplek kraton Semarapura dan telah dibangun sekitar tahun 1686 oleh peletak dasar kekuasaan dan pemegang tahta pertama kerajaan Klungkung yaitu Ida I Dewa Agung Jambe.

Kertagosa merupakan tempat permbahasan segala sesuatu yang bertalian dengan situasi keamanan, kemakmuran serta keadilan wilayah kerajaan Bali atau istilahnya pengadilan zaman dulunya Bali.

Kertagosa terdiri dari dua buah bangunan (bale) yaitu Bale Kerta Gosa dan Bale Kambang. Disebut Bale Kambang karena bangunan ini dikelilingi kolam yaitu Taman Gili.

Keunikan Kerta Gosa dengan Bale Kambang ini adalah pada permukaan plafon atau langit-langit bale ini dihiasi dengan lukisan tradisional (gaya wayang). Disinilah tergambar jelas, kasus yang sudah disidangkan disini dan bagaimana hukuman dan jenis hukuman yang diberikan terhadap yang bersalah.

Lukisan ini rangkaian cerita yang bertema pokok parwa yaitu Swargarokanaparwa dan Bima Swarga yang memberi petunjuk hukuman karma phala (akibat dari baik-buruknya perbuatan yang dilakukan manusia selama hidupnya) serta penitisan kembali ke dunia karena perbuatan dan dosa-dosanya.

Lukisan dibagi menjadi enam deretan yang bertingkat. Deretan paling bawah menggambarkan tema yang berasal dari ceritera Tantri. Dereta kedua dari bawah menggambarkan tema dari cerita Bimaswarga dalam Swargarakanaparwa. Deretan selanjutnya bertemakan cerita Bagawan Kasyapa. Deretan keempat mengambil tema Palalindon yaitu ciri atau arti dan makna terjadinya gempa bumi secara mitologis. Lanjutan cerita yang diambil dari tema Bimaswarga terlukiskan pada deretan kelima yang letaknya sudah hampir pada kerucut langit-langit bangunan. Di deretan terakhir atau keenam ditempati oleh gambaran tentang kehidupan nirwana.

Fungsi dari kedua bangunan terkait erat dengan fungsi pendidikan lewat lukisan-lukisan wayang yang dipaparkan pada langit-langit bangunan. Yang menarik kursi peninggalan jaman kerajaan yang sudah direnovasi masih tertata rapih seperti bagaimana posisinya pada jaman kerajaan dulu. Suasana kerajaan sangat terasa di tempat ini, semua tertata rapih dan bersih. Tentunya kepedulian Pemda setempat untuk merawat salah satu objek wisata yang bersejarah di pulau Bali.

Kerta Gosa ternyata juga pernah difungsikan sebagai balai sidang pengadilan yaitu selama berlangsungnya birokrasi kolonial Belanda di Klungkung (1908-1942) dan sejak diangkatnya pejabat pribumi menjadi kepala daerah kerajaan di Klungkung (Ida I Dewa Agung Negara Klungkung) pada tahun 1929. Bahkan, bekas perlengkapan pengadilan berupa kursi dan meja kayu yang memakai ukiran dan cat prade masih ada.

Benda-benda itu merupakan bukti-bukti peninggalan lembaga pengadilan adat tradisional seperti yang pernah berlaku di Klungkung dalam periode kolonial (1908-1942) dan periode pendudukan Jepang (1043-1945). Pada tahun 1930, pernah dilakukan restorasi terhadap lukisan wayang yang terdapat di Kerta Gosa dan Bale Kambang oleh para seniman lukis dari Kamasan. Restorasi lukisan terakhir dilakukan pada tahun 1960.

Wisatawan domestik dan asing yang ingin memasuki areal pura dikenakan tiket masuk Rp 15.000 untuk Domestik atau pun Wisatawan Asing. Wisatawan yang datang ke tempat ini juga bisa menyaksikan keindahan tempat Pengadilan jaman dulu dan alam pemandangan kota Klungkung. Sebagai bekas kerajaan, wajar jika Klungkung mempunyai banyak peninggalan yang saat ini menjadi objek wisata.
(note: dari berbagai sumber)

11 comments

  1. Peri Hardiansyah Reply

    Jadi kayak semacam saksi bisu ya mbak berbagai macam kasus dan keputusan penting pemimpim daerah setempat, bahkan masih bertahan meskipun dalam pendudukan kolonial. salut.

    • Utie Adnu Reply

      Boleh bngt nih mba buat next explore klo k Bali… Apalagi Ada cerita sejarahnya mkin suka aku kpingin lihat dr dekat, kagumny masih terawat smp skrang

    • Milda Ini Reply

      Wisata kayak gini buat aku bisa sekalian belajar sejarah nambah wawasan dan tau tentang sejarah masa lalu bangsa indonesia. Ini jadi bagian yang membuat banyak hal yang tidak saya ketahui

  2. Helena Reply

    waw, jadi dulunya itu tempat pengadilan zaman Belanda? Kece amat pengadilannya. Seneng deh kalau kursi, meja, dan furniture zaman kerajaan masih terawat apik.

  3. April Reply

    Baru tau ttg pengadilan adat di Bali dan seperti itu bangunannya. Banyak lukisan yang jd pedoman hidup zaman dulu yaa. Sudah lama pula ya berdirinya. Aku suka lokasinya msh dijaga autentik gak dicat warna warni kyk objek wisata kekinian haha iyalah bangunan bersejarah.

  4. Larasati Neisia Reply

    Ternyata pengadilan sudah ada sejak jaman dulu. Ini bangunannya masih asli pula. Aku jadi bayangin gimana kehidupan waktu dulunya. Next ke Bali wajib mampir ke sini, biar nambah pengetahuan.

  5. nyi Penengah Dewanti Reply

    Mba Nita, meskipun ibuku dari Bali asli aku malah belum sempat ke sini mBa
    jadi kepo kalo mudik ntaran mau liat atau main ke sini kalo sempat
    Kertagosa jadi begitu ya, ini tempat masih kerawat banget seneng dengar kisah jaman lampau

  6. Hani Reply

    Wah, udah lama nih belum wisata ke tempat bersejarah. Kan lumayan banget ya mba, bisa jd wisata belajar. Hehe.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.