Review,  Review Buku

Review Buku To Kill A Mockingbird

Sharing is caring!

Review Buku To Kill A Mockingbird
To Kill A Mockingbird

Judul Buku : To Kill A Mockingbird
Penulis : Harper Lee
Penerbit : Qanita
Jumlah Halaman : 536 Halaman
Harga : Rp. 65.000
ISBN : 9780446310789
My rating: 3 of 5 stars

Saya menjadi bertanya – tanya kenapa Harper Lee hanya menerbitkan satu buku ini saja. Padahal karyanya sangat fenomenal. Saya membaca Gold Edition novel yang diterbitkan pada 1960 ini.

Novel yang dituliskan berdasarkan pengamatan penulis terhadap keluarga dan tetangga-tetangganya, serta kejadian-kejadian yang terjadi di sekitarnya pada tahun 1936, saat penulis masih berumur 10 tahun, memang menjadi novel yang tak lekang dimakan zaman.

Novel Klasik yang mendapatkan Pulitzer Award 1961 ini sebenarnya tidak mampu memberikan sisi heroik, saya juga hanya memberikan 3 bintang saja untuk buku ini, buku yang menceritakan seorang ayah dan pengacara biasa, namun memiliki perjuangan luar biasa menegakkan keadilan tanpa memandang ras adalah hakekat buku ini.

Kenapa judulnya “To Kill a Mockingbird”? percakapan ini diawali ketika Jem dan Scout dihadiahi sebuah senapan angin oleh paman mereka, Atticus berkata pada Jem [hlm 178-179]

Atticus berkata pada Jem, “Aku lebih suka kau menembaki kaleng timah di halaman belakang, tapi aku tau kau akan memburu burung. Kau boleh menembak burung Bluejay sebanyak yg kau mau, kalau bisa kena, tetapi ingat, membunuh Mockingbird-sejenis murai bersuara merdu- itu dosa.”

Itulah sekali-kalinya aku pernah mendengar Atticus berkata tentang sesuatu yang menyebabkan dosa, dan aku menananyakan kepada Miss Maudie

“Ayahmu benar”, katanya. “Mockingbird menyanyikan musik untuk kita nikmati, hanya itulah yang mereka lakukan. Mereka tidak memakan tanaman di kebun orang, tidak bersarang di gudang jagung, mereka tidak melakukan apapun, kecuali menyanyi dengan tulus untuk kita. karena itulah, membunuh mockingbird itu dosa”

Novel ini menyindir masyarakat mampu berani “membunuh” seorang tidak bersalah hanya karena dia Negro. Mungkin itu menjadi cerminan di masyarakat kita, masih banyak orang tidak bersalah menjadi tumbal atas kesalahan orang lain.

View all my reviews

TV journalist, traveler, writer, blogger, taekwondo-in and volunteer. Bookworm, coffee addict, chocolate and ice cream lovers

4 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

HTML Snippets Powered By : XYZScripts.com
Skip to toolbar