Uncategorized

OKTOBER KELABU

Sharing is caring!

Kata orang bulan Oktober tahun ini menjadi bulan Oktober kelabu, entah itu mengarah kepada siapa dan apa. Tapi kalo boleh melihat kembali, perjalanan di awal bulan Oktober 2008 hingga kini, boleh dikatakan dunia perekonomian dunia dan khususnya Indonesia berada dalam situasi yang mengkhawatirkan.

Sebagian pelaku ekonomi kini mulai gigit jari, mulai dari Bank Indonesia yang menaikkan suku bunga acuannya secara perlahan – lahan dari 8, 25 persen hingga kini di level 9, 5 persen. Bahkan yang terparah, indeks harga saham gabungan (IHSG) menyentuh level psikologis terendahnya sepanjang sejarah yakni di level 1100-an, hmmm padahal diawal tahun IHSG sempat mengukir prestasi dengan rekor tertingginya di level 2300-an.

Bahkan selama dua hari Bursa Efek Indonesia melakukan suspensi pasar, untuk menghentikan anjloknya indeks lebih lanjut.

Selain itu, hal serupa juga terjadi pada perdagangan valuta asing, seluruh mata uang asing mengalami pelemahan terhadap nilai tukar US$. Karena Amerika Serikat menarik seluruh Dollar yang ada di pasar. Rupiah pun sempat menyentuh level Rp 12.000,-. Bank Indonesia sendiri melakukan intervensi dengan menekan agar rupiah tidak berada di level tersebut. Pekan ini rupiah benar – benar menjadi sasaran empuk bagi Dollar. Masyarakat pun berburu menukarkan Dollarnya dengan rupiah, hal ini pun membuat Money Changer kehabisan rupiah.

Hal serupa pun terjadi pada harga komoditi karet yang turun tajam dari harga Rp 13.000, – per kg menjadi Rp 3.500 – 4.000,- per kg. Tidak berbeda dengan karet, kelapa sawit pun mengalami hal serupa. Kondisi ini membuat petani terpaksa gigit jari, dan membuat daya beli menurun.

Sektor ritel pun akhirnya ikut merasakan hal ini, karena menurunnya daya beli masyarakat, berakibat pada menurunnya omzet.

Aktivitas pasar pun menjadi sepi pengunjung, karena pembeli lebih memilih untuk menahan dan melihat situasi yang terjadi.

Ah… Oktober kelabu, padahal ini merupakan bulan kelahiranku, kalau orang lain menahan untuk berinvestasi, tapi diriku berani berinvestasi dan membuka usaha.

Hmmmm , dimanapun tempatnya, apapun usahanya, jika kita mau berusaha toh tidak ada kata kelabu.

Karena segala sesuatu itu penuh warna, kelabu pun adalah warna yang harus dilalui. Dampak ekonomi yang baru akan terasa 6 bulan hingga 1 tahun mendatang pun harus terus dijalani. Hidup harus terus berjalan kedepan kan, kenapa harus takut membuat keputusan.

TV journalist, traveler, writer, blogger, taekwondo-in and volunteer. Bookworm, coffee addict, chocolate and ice cream lovers

6 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

HTML Snippets Powered By : XYZScripts.com
Skip to toolbar