Uncategorized

Maha Daya Cinta

Sharing is caring!

Cerpen ini ialah cerita bersambung yang ditulis oleh 13 Penulis dari hasil gathering #NBCPalembang hari Minggu, 18 Desember 2011.

@mizzsekar

Damn It!

Siapa bilang ini mudah? Siapa bilang ini dikerjain 15 menit juga selesai? Sudah nyaris tiga jam ini aku duduk di depan tumpukan dokumen-dokumen di ruang kerja pengap ini.  Laporan pertahun harus dibukukan satu persatu. Beneran deh, kalau dia ini nggak punya tampang ala Chaning Tatum, ogah nongkrong dipojokan gudang demi laporan ini.

@rahma_hayati

Sebenernya laporan ini bukan suatu hal yang harus aku selesaikan dalam waktu cepat. Bukan pula karena angka-angka yang kian detik menggerogoti otak kecilku, melainkan karena dia. Dia yang mampu membuat jantungku berdetak lebih kencang. Dia yang sanggup memaksa ku bangun jam lima pagi, dan menghabiskan delapan belas jam dikantor! “Yes, that’s me! I’m an adrenaline jungkie!” Padahal kantor ini nggak membayar aku setimpal kok. Ini semua karena dia yang membuat hidupku jadi lebih berirama dalam ritme yang lebih menyenangkan.

@orangekusuka

Agh, Dasar SINTING!

Bisa-bisanya aku jadi bodoh kayak gini.

Sampai tiap hari rela bela-belain kerja mati-matian dengan gaji yang tak seberapa ini.

Percuma aja kan? Percuma dandan cantik pakai bedak tebal, lipstik mahal, parfum merk terkenal, baju kerja dari butik ternama demi dia yang nyatanya sampai sekarang belum pernah sekalipun menyapaku.

@aini_uzumaki

Aku udah melakukan banyak cara supaya dia menyapaku. Bahkan ribuan jurus sudah ku keluarkan buat ngedapetin perhatiannya. Tapi tetap saja hasilnya nihil. Dia sama sekali enggak pernah  menyapaku. Jangankan mau menyapa, sekadar memandang aja kayaknya dia nggak mau. Cuek banget. Dan gara-gara perasaan yang tak berbalas ini, aku jadi banyak berkorban. Tenaga, waktu, pikiran, materi. Fuh! Nggak setimpal sama yang aku dapet. Nyoba buat ngelupain dia? Hmm..

@xisco32

Kata Rina, sahabat sekaligus rekan kerjaku, justru aku yang belum berbuat apa-apa. Disela-sela istirahat siang tadi, dia menasehatiku kalau memang serius suka, harusnya aku usaha lebih gila lagi.

“Kalau memang suka, jangan ngomongnya ke aku, tuh dia tuh. Samperin gih!”, katanya dengan nada mengejek.

Aku terdiam. Benar juga sih. Selama ini aku hanya terpusat pada perubahan diriku saja tanpa mencoba menegurnya lebih dulu.  Ku pandangi dia dari kejauhan. Memandanginya sepuas-puasnya. Lalu membiarkan waktu merenggut sisa istirahat siang ini. Dan lagi-lagi, aku dikalahkan oleh perasaan malu dan harga diri.

@suchsucia

Jika cerita ini difilmkan, aku rasa semua penonton pasti bosan dan mengutuk-ngutuk sutradara dan pemain di film ini. Ceritanya datar. Hanya ada seorang perempuan yang menikmati pandangan pujaan hatinya dari sudut yang hanya ia yang tahu. Pun dengan aku, si tokoh pemalu itu. Aku juga bosan!

@anggaaks

Hari ini aku memutuskan untuk mengajaknya berbicara. Aku ingin mengakhiri segala kegalauan ini. Tepat saat pulang kerja nanti, aku akan menyampaikan semua perasaanku kepadanya. Aku sudah capek memendam perasaan galau ini. Aku capek mencintainya sendiri tanpa tahu bagaimana perasaannya padaku.

…. to be  continue*

——

*Si admin kecape’an ngetik pemirsa! =))

TV journalist, traveler, writer, blogger, taekwondo-in and volunteer. Bookworm, coffee addict, chocolate and ice cream lovers

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

HTML Snippets Powered By : XYZScripts.com
Skip to toolbar