Cerita dari Lombok, Cerita dari Lombok, Jurnal Suzannita
Lifestyle,  Lombok,  Travelling

Cerita dari Lombok

Sharing is caring!

Cerita dari Lombok. Terima kasih kuucapkan untuk setiap kenangan indah dan seluruh perjalanan ini. Rasa penasaran terhadap Lombok pun akhirnya lunas.

Minggu, 2 Desember 2012

Cerita dari Lombok, Cerita dari Lombok, Jurnal Suzannita

Setelah menempuh perjalanan dari Surabaya, saya tiba di Lombok pukul 6 malam waktu Lombok di Bandar Udara Internasional Lombok. Saya menggunakan Damri, dan langsung menuju Jo-je Boutique and Bungalow, yang terletak di kawasan Senggigi.

Cerita dari Lombok, Cerita dari Lombok, Jurnal Suzannita

Senin, 3 Desember 2012

Cerita dari Lombok, Cerita dari Lombok, Jurnal Suzannita
Usai sarapan di  Jo-Je Boutique and Bungalow, saya menyempatkan melihat pemandangan di pantai yang terletak di belakang tempat saya menginap. Hamparan pasir yang berwarna hitam pekat menjadi pemandangan tersendiri. Ini menjadi pengalaman pertama saya melihat pasir berwarna hitam.

Cerita dari Lombok, Cerita dari Lombok, Jurnal Suzannita

Setelahnya dengan menyewa taksi saya menuju Air Terjun Sendang Gile dan Air Terjun Tiu Kelep. Ini yang harus diperhatikan di Lombok, harap berhati-hati dan pintar menawar, karena angkot pun tidak ramah dan menawarkan jasa sewa dengah harga yang sangat tinggi.
Di tengah perjalanan saya berhenti sebentar untuk mengabadikan diri di Bukit Malimbu.
Cerita dari Lombok, Cerita dari Lombok, Jurnal Suzannita
Salah satu objek wisata dari sekian banyaknya destinasi di Lombok, Malimbu memang begitu mempesona. Laut nan biru dengan deburan ombak dan desiran angin maupun hijaunya bukit Malimbu seolah menjadi benteng keindahan pantainya yang berpasir putih.
Cerita dari Lombok, Cerita dari Lombok, Jurnal Suzannita
Perjalanan dari Senggigi menuju air terjun cukup jauh sekitar satu jam lamanya. Kawasan air terjun ini adalah salah satu arah menuju Gunung Rinjani. Air terjun Sendang Gile dan Tiu Kelep terletak di Desa Senaru, Kecamatan Bayan, Lombok Utara. Terletak di kaki Gunung Rinjani, tentunya kesegaran air terjun menjadi hal yang patut dinikmati.
Cerita dari Lombok, Cerita dari Lombok, Jurnal Suzannita
Untuk masuk kawasan ini kita diharuskan menyewa guide, entah alasannya apa. Tapi mereka memaksa jika mau masuk melihat air terjun harus dengan guide. Akhirnya tawar menawar pun dilakukan.
Cerita dari Lombok, Cerita dari Lombok, Jurnal Suzannita
Perjalanan menuju ke dua air terjun tersebut membutuhkan waktu sekitar 40 menit berjalan kaki. Menuju Air Terjun Sendang Gile, jalurnya lebih enak karena sudah dibuat jalur khusus dengan menuruni anak tangga. Sekitar 10 menit tibalah di Air Terjun Sendang Gile.
Cerita dari Lombok, Cerita dari Lombok, Jurnal Suzannita
Setelah dari Sendang Gile kami pun menuju air terjun kedua, melewati jalan setapak mengikuti aliran irigasi, menyeberangi sungai yang berbatu kemudian dilanjutkan melintasi jalan setapak yang di kanan kirinya pepohonan yang rimbun.
Cerita dari Lombok, Cerita dari Lombok, Jurnal Suzannita
Ada jembatan yang perlu naik tangga, dan ditengah jembatan tersebut terdapat aliran air. Untuk melintasi jembatan ini perlu nyali besar karena jurang yang cukup dalam menjadi perantara jembatan tersebut. Untuk melangkah ya harus satu per satu (one step at time).
Cerita dari Lombok, Cerita dari Lombok, Jurnal Suzannita
Air Terjun Tiu Kelep lebih deras dari air terjun Sindang Gile. Terdapat gua kecil di dekat air terjun. Ingin rasanya menceburkan diri, tapi sayang tak ada persiapan baju ganti yang dibawa.
Cerita dari Lombok, Cerita dari Lombok, Jurnal Suzannita
Masih belum puas rasanya menikmati keindahan air terjun, saya harus melanjutkan perjalanan menuju Masjid Kuno Bayan, Desa Bayan Kecamatan Bayan,  yang menjadi saksi bisu masuknya agama Islam di Pulau Lombok.
Cerita dari Lombok, Cerita dari Lombok, Jurnal Suzannita
Masjid ini  berdiri disebuah bukit dan dikelilingi beberapa makam penyebar agama Islam di kawasan ini. Konon masjid sudah berumur ratusan tahun lalu. Namun hingga saat ini belum ditemukan sumber tertulis siapa pendirinya dan pada tahun berapa didirikan.
Cerita dari Lombok, Cerita dari Lombok, Jurnal Suzannita
Dari Masjid Kuno Bayan, saya kembali lagi ke tempat menginap, yang sebelumnya singgah sebentar di Bangsal untuk makan siang dan membeli buah. Di sore hari, saya berjalan menyusuri Senggigi, menikmati jus mangga dan mencicipi Balinesse spa.
Cerita dari Lombok, Cerita dari Lombok, Jurnal Suzannita
Selasa, 4 Desember 2012

Cerita dari Lombok, Cerita dari Lombok, Jurnal Suzannita

Setelah sarapan di  Jo-Je boutique hotel, saya menitipkan luggage dan menuju Bangsal dengan taksi. Dari Bangsal saya memilih berjalan kaki menuju pelabuhan Bangsal. Perjalanan hari ini menuju Gili Trawangan.
Cerita dari Lombok, Cerita dari Lombok, Jurnal Suzannita
Gili atau pulau terletak di lepas barat laut Pulau Lombok, terdapat tiga Gili, yaitu Gili Air, Gili Meno, dan Gili Trawangan. Ketiga Pulau ini memiliki pemandangan yang sangat indah dengan pantainya yang yang putih bersih dan airnya yang sangat jernih.
Cerita dari Lombok, Cerita dari Lombok, Jurnal Suzannita
Saya memilih menggunakan public boat. Setelah seluruh penumpang terisi penuh, kapal pun berangkat. Saya pun memilih duduk didepan kapal dan menikmati desiran angin.
Cerita dari Lombok, Cerita dari Lombok, Jurnal Suzannita
Setelah tiba di Gili Trawangan, saya menyewa sepeda mengelilingi pulau ini, cukup banyak tempat penyewaan sepeda disini. Bersepeda pun menjadi pilihan untuk mengelilingi pulau sepanjang 3 kilometer dan lebar 2 kilometer dan dengan 800 ribu jiwa tapi memiliki fasilitas wisata yang lebih lengkap.
Cerita dari Lombok, Cerita dari Lombok, Jurnal Suzannita
Tapi sayangnya disini sudah terlalu ramai oleh turis asing, jadi sepanjang mata memandang “bule”.
Cerita dari Lombok, Cerita dari Lombok, Jurnal Suzannita
Selain bisa bersepeda, disini sangat terkenal dengan wisata menyelam (diving) ataupun snorkeling. Terdapat banyak penyewaan alat snorkeling hingga short courses diving.
Cerita dari Lombok, Cerita dari Lombok, Jurnal Suzannita
Selain itu ada juga Cidomo sejenis kereta kuda untuk berkeliling Gili Trawangan, namun kalian harus membayar Rp 125.000 untuk 3 orang.
Cerita dari Lombok, Cerita dari Lombok, Jurnal Suzannita
Karena saya tidak menginap di Gili Trawangan, saya pun harus mengejar public boat terakhir.  Sebelum menuju Hotel Kuta Indah tempat saya menginap selanjutnya. Saya mampir ke pasar tradisional dan membeli buah.
Cerita dari Lombok, Cerita dari Lombok, Jurnal Suzannita
Tiba di Hotel Kuta Indah dan check in, saya langsung menikmati Pantai Kuta, yang tidak hanya ada di Bali, tapi juga di Lombok. Sayang sekali disini terlalu banyak anjing dan agak sedikit jorok kawasan ini.
Cerita dari Lombok, Cerita dari Lombok, Jurnal Suzannita
Rabu, 5 Desember 2012
Hari ini kegiatanku hanya bersantai di pinggir pantai dan bermain dengan matahari serta pasir. Usai sarapan, aku berjalan menyusuri kawasan kuta, Lombok. Hampir seluruh rumah disisi kiri kanan jalan terdapat penginapan, hotel hingga aneka jenis toko penjual souvenir.
Cerita dari Lombok, Cerita dari Lombok, Jurnal Suzannita
Pantai dengan pasir berwarna putih ini terletak sebuah desa Kuta. Pantai ini terletak di Selatan Pulau Lombok. Mendengar nama Kuta (:Kute) tentu yang terlintas adalah Pantai Kuta di Bali. Namun Lombok juga memiliki Pantai Kuta, yang dilindungi perbukitan. Sehingga menjadi momen indah saat sunset tiba.
Cerita dari Lombok, Cerita dari Lombok, Jurnal Suzannita
Namun sayang di bagian sisi pantai lain yang merupakan tempat penduduk tinggal. Bau amis dan ikan yang membusuk menjadi aroma tak sedap dan tentunya mengganggu kenyamanan pengunjung. Semoga kedepan Pemerintah Lombok bisa meningkatkan kebersihan di kawasan ini.
Cerita dari Lombok, Cerita dari Lombok, Jurnal Suzannita
Puas bermain pasir dan mengabadikan suasana, aku pun menikmati semilir angin di pondokan yang sudah tersedia. Bangunan semi permanen seperti gazebo ini memang menjadi tempat favorit. Baik pengunjung maupun pedagang. Karena tak berapa lama duduk, para pedagang pun menghampiri menawarkan aneka jenis kain hingga aksesoris khas Lombok.

Cerita dari Lombok, Cerita dari Lombok, Jurnal Suzannita

Kamis, 6 Desember 2012

Ini adalah hari terakhir di Lombok. Setelah sarapan, saya pun langsung menuju bandara dengan menumpang taksi.  Menariknya, ini adalah kali pertama penerbanganku yang jadwal terbangnya maju karena telah terbiasa delay.  Entah kapan akan kembali kesini, mungkin tidak pernah kembali. Hanya Allah yang mengetahui segalanya.

TV journalist, traveler, writer, blogger, taekwondo-in and volunteer. Bookworm, coffee addict, chocolate and ice cream lovers

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

HTML Snippets Powered By : XYZScripts.com