Mimpi-Mimpi Langit

By Suzannita

Publish on Antologi Mimpi

Review Buku Mimpi

Mimpi

 

Mimpi adalah jawaban untuk pertanyaan kita meski kita belum pernah menanyakannya sekalipun.

Hidup  adalah tentang pilihan, perjuangan dan pengorbanan. Dan semuanya berawal dari mimpi dan impian. Karena dengan memiliki impian yang besar, kita bisa mendapatkan pencapaian yang besar pula.

Apakah kau tahu Langit bisa bermimpi?

Jika tidak, kau harus tahu aku, mimpi-mimpi Langit. Akulah  Langit, lengkapnya Langit Bakaruddin. Nama ini pemberian dari nenekku yang mengharapkan cucunya bisa terbang  menggapai cita-citanya setinggi langit dan merengkuh cinta dari Sang Khalik.

Kami  adalah orang tepian Musi tinggal di rumah rakit. Bangunan berukuran 7 meter kali 10 meter itu terbuat dari  bahan kayu gerawan yang terkenal tahan lama dan anti rayap. Dan tiap-tiap kayu disangga bambu sehingga dapat mengapung. Rumah rakit inilah saksi sejarah perjuangan keluarga kami.

      Sungai yang membelah kota Palembang menjadi dua bagian ulu dan ilir, adalah bagian dari kehidupan kami. Tempat makan makan, minum hingga membuang kotoran sekalipun. Kami adalah orang-orang yang taat beribadah, setiap azan berkumandang para kaum laki-laki di kawasan 10 ulu langsung berbondong-bondong ke mushola atau masjid. Setiap kamis malam, selalu ada pengajian rutin. Begitupun dengan kaum wanitanya. Agama menjadi landasan kuat bagi lingkungan kami.

Apakah kau tahu mimpiku bagi Musi?

Aku terlahir dari keluarga sederhana, kakek buyutku pedagang dan hingga kini pun ayahku mewarisi bakat dan keahlian tersebut. Ayahku Kemas Abdul Bakaruddin meupakan pedagang pakaian. Kalian tahu kenapa banyak  yang tinggal di tepian sungai Musi, karena di masa lampau Musi merupakan tempat perdagangan, lalu lintas dan pusat dari kota ini.  Tapi aku tidak bermimpi menjadi pedagang, aku ingin membangun tanah kelahiranku. Musi, disinilah kisahku dimulai.

***

Nenek selalu mengatakan aku harus bersyukur dengan seburuk apapun kondisi yang aku hadapi, betapa menyakitkan kenyataan yang aku harus terima. Kesombongan tak akan pernah menjadi pemenang namun kesederhanaanlah yang akan terus bertahan dan menjadi pemenang sesungguhnya. Hiduplah apa adanya, dan kau akan merasakan kebahagiaan yang sangat luar biasa. Nilai-nilai kesederhanaan yang ditanamkan itu terpatri didalam dada.

“Langit… Langit… Langit… ayo pulang, sudah sore nak”, teriak Ibu.

“Iya bu…” jawabku.

Aku yang sedang asyik bermain bola ditanah lapang didekat rumah pak Thabrani, lurah 10 ulu, langsung bergegas pulang.

“Hoi, kawan aku pulang dulu, sudah sore sampai ketemu di Mushola ya, jangan lupa kita punya setoran hapalan sama Ustadz Maz Ali”, ucapku. Kulambaikan tangan dan meninggalkan mereka.

Seperti biasa sebelum sholat maghrib di Mushola, aku bersama adikku Nyimas membantu ibu mengupas kacang tanah. Ibu menjual kacang tanah kupas dipasar 10 ulu. Menurut ibu harga kacang tanah kupas jauh lebih mahal daripada kacang tanah yang belum dikupas. Mengupas kacang tanah adalah sebagian dari aktivitas ibu di rumah, selain membuat pempek setiap pagi dan menjualnya kepada para pedagang keliling yang langsung datang kerumah mengambil dagangan mereka.

Setelah setengah jam berkutat dengan melepas kulit ari berwarna merah dari kacang tanah. Aku dan ayah langsung menuju mushola, malam ini aku punya setoran hapalan surat Abasa.

“Langit, kau tidak ambil wudhu” , tanya Ayah.

“Aku sudah wudhu dari rumah, Yah”. jawabku.

Sebelum berangkat ke Mushola, aku sempat menulis hapalan tersebut di tangan. Aku sengaja tidak mengambil wudhu di mushola, karena aku takut hapalanku terhapus oleh air wudhu.

Usai sholat magrib berjamaah yang dipimpin Kyai Mustofa Ibrahim, kami mendengarkan tausyhiah tentang kebohongan. Sekecil apapun kebohongan itu walau untuk kebaikan tetap artinya kebohongan dan tetap dihitung sebagai dosa.

Aku tercekat mendengarkan ucapan Kyai Mustofa Ibrahim tersebut. Aku berpikir keras bagaimana setoran hapalanku malam ini, tak mungkin aku tidak menyetor. Aku sudah hapal namun aku masih tidak yakin, sehingga kutulis hapalan tersebut ditangan.

Tausyiah singkat itu menyadarkanku, aku harus menjadi orang yang jujur dan tidak berlaku curang. Karena sesungguhnya Allah melihat setiap perbuatan dan tingkah laku yang kulakukan.

Pengajian kami dimulai usai shalat Isya berjamaah. Para jamaah lain ada yang masih bertahan di mushola , ada yang memilih pulang. Ayah juga sudah pulang ke rumah,   Ustadz Maz Ali tidak lupa akan janjinya menagih setoran hapalan kami. Teman-temanku satu per satu maju menyetorkan hapalan. Ada yang terbata-bata tidak lancar dengan hapalannya, ada yang bingung karena tidak menghapalnya, dan ada yang percaya diri karena sudah hapal di luar kepala.

Kini giliranku tiba, hapalan yang kutulis ditangan sudah kuhapus, sesaat sebelum pengajian dimulai.

“Ya Allah bantulah hamba, mudahkanlah hamba menyetorkan hapalan ini”, ucapku dalam hati.

“Bagaimana Langit, apa kau sudah hapal surat Abasa”, tanya Ustadz Maz Ali.

“Insya Allah ustadz, saya akan berusaha menghapalnya, mohon bantuannya Ustadz”, jawabku.

“Bismillahirrohmanirrahim… Abasa wa tawalla, Anjaa ahu ala a’ma, Wa maa yudriika la’allahu yazakka…”, kubaca dengan khusyuk surat ke 80 di Al-Qur’an tersebut.

Ustadz Maz Ali mendengarkan setoran hapalanku dengan seksama,

Sesekali aku terdiam sebentar dan melanjutkan kembali hapalanku sambil terus berharap aku menyelesaikannya dengan baik.

“Tar Haqhaa qotaroht… U’laika humul kaparotul fajaroht…” kutuntaskan 42 ayat hapalanku.

“Alhamdulillah, aku berhasil menghapalnya Ustadz”, ucapku penuh rasa syukur.

“Alhamdulillah, hapalanmu lancer Langit”, kamu lulus hapalan surat ini dan akan kita lanjutkan untuk hapalan surat berikutnya di juz amma”, kata Ustadz Maz Ali.

Selesai mendengarkan setoran Ustadz Maz Ali pun menerangkan tentang Surat Abasa. Menurut riwayat, pada suatu ketika Rasulullah  SAW menerima dan berbicara dengan pemuka-pemuka Quraisy yang beliau harapkan agar mereka masuk Islam. Dalam pada itu datanglah Ibnu Ummi Maktum, seorang sahabat yang buta yang mengharap agar Rasulullah SAW membacakan kepadanya ayat-ayat Al Quran yang telah diturunkan Allah. Tetapi Rasulullah SAW bermuka masam dan memalingkan muka dari Ibnu Ummi Maktum yang buta itu, lalu Allah menurunkan surat ini sebagai teguran atas sikap Rasulullah terhadap ibnu Ummi Maktum itu.

Ustadz Maz Ali juga menerangkan  pokok isi surat ini tentang keimanan, tentang dalil-dalil keesaan Allah, keadaan manusia pada hari kiamat. Selain itu  dalam berdakwah hendaknya memberikan penghargaan yang sama kepada orang-orang yang diberi dakwah, cercaan Allah kepada manusia yang tidak mensyukuri nikmat-Nya.

***

Sementara itu, angin malam berhembus kencang, dan tiba-tiba langit berubah menjadi merah dan hawa bertambah panas. Kepulan asap dan kobaran api melahap rumah-rumah terbuat dari kayu.

“Api… api… api… kebakaran… kebakaran… kebakaran”, teriakan warga saling bersahutan.

Ayah yang sedang makan dirumah langsung bergegas keluar. Ayah terkejut saat melihat keluar kobaran api sudah mencapai atap rumah. Bahkan beberapa rumah warga sudah ludes dilalap si jago merah. Api ternyata berkobar semakin cepat membubung ke angkasa dan sudah bergerak menuju ke rumah rakit keluarga kami.

Ayah berteriak “Ibu, ayo bu, keluar dari rumah, ada kebakaran… Bu… ayo bawa Nyimas keluar dari rumah sekarang”.

Ibu yang panik langsung bergegas keluar rumah sambil membawa Nyimas. Ayah langsung menyelamatkan barang-barang didalam rumah. Surat-surat berharga maupun dagangan pakaian ayah.

“Ayah, mana Langit?” tanya Ibu.

Sambil mengambil barang-barang yang masih bisa diselamatkan Ayah menjawab “Langit, masih di mushola bu, tenang Langit tidak apa-apa”.

Ibu pun kembali memeluk Nyimas yang menangis tersedu. Suasana begitu mencekam, kobaran api semakin menjadi, warga yang bahu membahu memadamkan api dengan air dari Sungai Musi tak kuasa menahan besarnya amarah si jago merah tersebut.

Akhirnya bantuan unit kebakaran datang, petugas dan warga pun terus berusaha menjinakkan api tersebut.

***

“Api… api… api… kebakaran… kebakaran… kebakaran”, teriakan warga saling bersahutan.

Ustadz Maz Ali terdiam dari tausyiahnya. Dan langsung beranjak dari tempatnya duduk dan berlari keluar.

“Astaghfirullahaladzim… Ya Allah…”, ucap Ustadz Maz Ali tertahan.

Ustadz Maz Ali kembali masuk ke mushola dan berkata “Anak-anak pengajian kita hari ini sampai disini ya, ada kebakaran di dekat rumah kita”.

Kami pun berbondong-bondong keluar dari mushola, sambil berlarian menuju ke tempat tinggal kami. Kobaran api dan kepulan asap yang membumbung ke angkasa seakan menjadi pertanda jika kebakaran yang terjadi itu sangat besar.

Sambil berlari bak kesetanan, aku berpikir keras dan berharap Ayah, Ibu dan Nyimas baik-baik saja.

“Ayah… Ibu… Nyimas…”, aku berteriak sekeras mungkin memanggil orang tua dan adikku.

 Diantara deru mesin mobil pemadam kebakaran, teriakan warga dan petugas yang bekerja keras memadamkan api. Aku terus mencari keluargaku.

“Ya Allah, lindungilah mereka”, aku berharap dalam cemas.

Seberkas sinar tepat jatuh pada Ibu dan Nyimas, aku pun langsung berlari menuju kea rah mereka.

“Ibu, Nyimas…”, kupeluk keduanya dengan erat.

“Langit…:, ucap Ibu.

“Kakak… kakak…” Nyimas menangis sejadinya dan membalas pelukanku dengan erat.

“Ibu, Nyimas , kalian tidak apa-apa? Bagaimana dengan Ayah”, tanyaku.

“Ayah tidak apa-apa, Ayah sedang membantu warga lain”, jawab Ibu.

Empat jam berlalu, kini kepulan asap sudah berkurang, arang kayu dan bau kayu bercampur pakaian dan plastik terbakar berbaur menjadi satu. Kebakaran itu hampir menghanguskan seluruh bangunan rumah di 10 ulu, beruntung rumah rakit kami masih selamat tak tersentuh api.

Ayah berjalan menuju kami, terlihat raut wajahnya sangat lelah, selain lelah fisik namun juga lelah melihat keadaan sekitar.

“Kalian tidak apa-apa,” tanya Ayah.

“Iya, kami tidak apa-apa”, jawab Ibu yang masih memeluk Nyimas yang sudah pulas tertidur.

“Ayo, kita pulang, keadaan sudah aman sekarang.

Ayah berkata “Musibah ini harus kita sikapi dengan bersabar, kita masih beruntung, rumah kita masih selamat dan tidak terbakar. Kita masih memliki tempat bernaung, coba lihat tetangga kita yang kehilangan rumah mereka”.

Lingkungan kami memang  padat penduduk, rumah yang terbuat dari kayu dan jaraknya sangat berdekatan. Jika tak hati-hati, seluruh harta yang dikumpulkan lenyap tak berbekas.

Aku bertanya “Apa penyebab kebakaran itu ya?”.

“Kebakaran tadi akibat kompor minyak tanah milik Salmiah meledak dan langsung menyambar gorden dan dinding dapurnya. Api itu tersebut akhirnya membakar rumah-rumah lain juga”, jawab Ayah.

Ternyata musibah kebakaran itu, tidak membuat mereka patah arang, buktinya para warga menerima dengan ikhlas dan menjalani hari-hari dengan mulai mengumpulkan barang yang masih bisa digunakan, membersihkan puing rumah. Akhirnya setelah berminggu-minggu sejak terjadinya musibah kebakaran, kawasan tempat tinggal kami mulai dibangun lagi. Mereka memiliki mimpi dan harapan yang tak pernah kalah oleh keadaan.

***

“Dua puluh  tahun berlalu dengan begitu cepat ya, bagaimana keadaanmu sekarang nak? Jadi kamu pulang besok?”, suara di telpon itu terhenti.

“Ayah, sehat-sehat saja kan, kenapa diam?” aku bertanya kepada Ayah yang diam ditelpon.

“Aku besok pulang pesawat pagi pukul 9, Yah. Pesawatku  langsung dari London ke Jakarta, sekitar 9 jam lamanya, baru nanti terbang dari Jakarta ke Palembang”, sambungku.

“Ayah mau minta oleh-oleh apa?” kembali aku bertanya.

“Ayah tidak minta apa-apa, yang penting kamu selamat sampai di rumah nak” jawab Ayah.

“Ya udah, sampai ketemu besok ya Ayah, Assalamu’alaikum” aku menutup percakapan dengan ayah.

“Wa’alaikumsalam”, jawab Ayah.

Perjalanan hidup siapa yang bisa menduga. Begitupun dengan diriku, setelah menamatkan SMA. Aku terpilih mendapatkan beasiswa ke London. Karena karya ilmiahku tentang kehidupan masyarakat tepian Sungai Musi dilirik oleh professor London, yang kebetulan hadir dalam lomba karya ilmiah di Jakarta.

Akhirnya aku menyelesaikan pendidikan hingga jenjang S3. Aku ingin pulang ke Palembang, mengabdi untuk tanah kelahiranku.

Usai mengucapkan salam perpisahan dan mengemas bagasiku. Aku pun akan meninggalkan London dalam beberapa jam lagi dan kembali ke tanah asalku berada.

Delapan tahun berada di negeri orang, aku tetap merindukan Musi, pempek dan Ampera. Tempat favorit bagiku, Karena dari Ampera kau bisa memandang sungai musi dan beragam aktivitasnya.

Saat kau menoleh ke kanan  kau akan melihat aktivitas bongkar muat barang-barang dagangan maupun penumpang di dermaga pasar 16 ilir. Saat kau menoleh kekanan kau akan melihat warung-warung terapung yang menjual kopi dan aneka masakan khas Palembang. Kau pun tak akan melewatkan pemandangan didepanmu saat kapal hingga tongkang berlalu lalang melintasi perairan Musi. Saat aku kecil, aku masih bisa melihat jembatan itu terangkat keatas dan kapal besar melintas di bawahnya.

“Langit, selamat jalan, semoga suatu saat kau kembali ke London ya” ucap Robert teman satu flat dan berbagi suka duka. Robert adalah warga London yang juga satu angkatan denganku.

“Jangan lupa janjimu datang ke Palembang”, ucapku sambil membalas pelukan perpisahan.

Aku melangkah memasuki pesawat. Akhirnya burung besi melambungkan aku terbang meninggalkan London. Setelah penerbangan lebih dari 10 jam aku tiba di Palembang.

Aku turun dari pesawat dan kulihat begitu banyak perubahan yang terjadi di kotaku. Bandara yang sudah besar, bagus dan bersih sekali. Jauh berbeda ketika kutinggalkan Palembang dengan Bandara Talang Betutu dan kini menjadi Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II yang begitu megah. Palembang jauh lebih cantik dan semakin bersih.

Mobil jemputan membawaku meninggalkan bandara, aku ingin menuju Musi, aku rindu rumah, aku haus air Musi.

Aku tertegun di depan rumah rakit milik Ayahku dan kulihat Ayah, Ibu, Nyimas dan suaminya serta keponakanku, yang kukenal melalui foto-foto. Aku sujud mencium tanah dan bangkit menuju ke arah mereka. Kupeluk mereka dengan erat dan sambil berbisik aku berkata “Aku kembali, Ayah Ibu…”.

Apakah kau percaya jika kau sudah minum air musi kau akan kembali lagi ke Palembang.

***

1 person likes this post.

Incoming search terms: