Event,  Palembang,  Travelling

Tradisi Haul & Ziarah Kubra di Palembang

Sharing is caring!

Sebagai kota tertua di Indonesia, Palembang menyimpan begitu banyak tradisi yang hingga kini masih terus terjaga. Jika ingin melihat keunikan lainnya di Palembang, datang dan berkunjunglah ke Palembang di penghujung bulan Sya’ban memasuki bulan Ramadhan.

Seperti umat Islam lainnya yang melakukan tradisi ziarah, umat Islam di Palembang juga melaksanakan ziarah memasuki Ramadhan. Namun yang berbeda tradisi ziarah di Palembang dihadiri hingga puluhan ribu umat Islam yang datang dari berbagai penjuru dunia.

Setiap tahunnya saat memasuki Ramadhan, umat Islam di Palembang menggelar tradisi Haul Ziarah Kubra ulama dan auliya Palembang Darussalam. Tradisi turun menurun sudah dilakukan sejak puluhan tahun silam khususnya bagi kaum alawiyyin dan salaf Baalawi setiap menjelang bulan Ramadhan tepatnya pada Jum’at terakhir sebelum Ramadhan selama 3 hari, sejak Jumat, Sabtu dan Minggu.

Tradisi Haul dan Ziarah Kubra ini sendiri bahkan sudah menjadi agenda wisata religi dan wisata budaya di kota Palembang. Pengunjung yang datang pun tidak hanya berasal dari luar kota Palembang, seperti dari pulau Jawa dan Kalimantan, namun juga dari luar negeri mulai dari Malaysia, Singapura, Thailand, Filipina, hingga Yaman dan Arab Saudi.

Bahkan banyak tokoh-tokoh Islam yang selalu hadir seperti Habib Bagir Al Atas dari Pekalongan, Habib Sholeh Al Idrus dari Malang dan Imam Habib Umar bin Abdulrahman Al Zufri dari Madinah.

Di tahun ini, rangkaian Haul dan Ziarah Kubra Ulama & Auliya Palembang Darussalam sudah dilakukan pada 12-14 Juni 2015. Agendanya mulai sejak Jumat, ba’da Shubuh  melakukan ziarah di pemakaman Auliya dan Habaib, lalu menuju Gubah Al-Habib Ahmad bin Syech Shahab di Jalan Dr. M. Isa, 8 Ilir, Palembang. Disini para jemaah melakukan yasinan dan tahlilan. Di pemakaman inilah sebagian besar Sadah Ba’alawi Palembang khususnya yang berdomisili di Seberang Ilir dimakamkan.

Karenanya eratnya hubungan kekeluargaan kaum alawiyyin dengan para sultan di Kesultanan Palembang Darussalam. Kesultanan Palembang Darussalam juga ikut terlibat dalam rangkaian acara Haul dan Ziarah Kubra ini.

Perjalanan pun dilanjutkan dengan Ziarah dan Haul Habib Aqil bin Yahya di Jalan Dr. M. Isa, Palembang. Dari pemakaman Habib Aqil bin Yahya, para jama’ah pun kembali ke sekretariat untuk makan siang dan shalat Jum’at. Rangkaian Haul dan Ziarah Kubra baru dilanjutkan kembali menuju Pondok Pesantren Ar-Riyadh, Jalan K.H.A. Azhari 13 Ulu Palembang, disini dilakukan shalat Ashar berjama’ah dan rauhah.

Semua perjalanan Haul dan Ziarah Kubra ini  dilakukan dengan berjalan kaki dan disemarakkan dengan tetabuan hajir marawis serta lantunan qasidah. Bendera dan umbul-umbul bertuliskan kalimat tauhid, Asmaul Husna ikut memeriahkan perjalanan Haul dan Ziarah Kubra.

Di hari kedua,  rangkaian Haul dan Ziarah Kubra dilanjutkan dengan ziarah ke pemakaman Ulama dan Auliya di kawasan Seberang Ulu, Telaga Sewidak dan Baabussalam. Perjalanan Haul dan Ziarah Kubra ini dilakukan sejak pukul 06.30 pagi hingga 12.30 siang dari kediaman Al-Habib Ahmad bin Hasan Al-Habsyi di Jalan KH Azhari, Kp. Karang Panjang,  Palembang menuju ke pemakaman Auliya dan Habaib Guba Telaga Sewidak, 14 Ulu, Palembang,  lalu ke Pemakaman Habaib Guba Baabussalam di Komplek Assegaff, 16 Ulu Palembang dan Haul  Dzurriah Habib Alwi Assegaf. Kompleks pemakaman Auliya dan Habaib Telaga Sewidak terpecah menjadi beberapa gubah yang letaknya berdekatan. Setelah makan siang bersama, agenda selanjutnya Rauhah dan Haul Al-Faqihil Muqaddam Tsani Al-Habib Abdurrahman As-Seggaf  yang merupakan salah satu tokoh utama para wali dan ulama dari Ahlil Bait Alawiyyin.

Puncaknya  pada hari ketiga, setelah mengikuti Haul Al-Habib Abdullah bin Idrus bin Shahab dan Al-habib Abdurrahman bin Ahmad Al-Bin Hamid. Ziarah Kubra dilakukan mulai dari pemakaman Al Habib Pangeran Syarif All Bsa, pemakaman Kesultanan dan Auliya Kawah Tengkurep,  dan pemakaman Auliya dan Habaib Kambang Koci.

Aktivitas Haul dan Ziarah Kubra yang dilakukan dengan berjalan kaki, membuat Palembang seperti lautan peserta berwarna putih yang melantukan kalimat tauhid hingga Asmaul Husna, serta bendera dan umbul-umbul maupun payung ikut menarik  minat baik wisatawan lokal maupun mancanegara.

Selain berziarah, para ulama, kyai dan habaib melakukan tradisi makan secara “ngobeng” yakni makan bersama dalam satu nampan untuk empat hingga lima orang. Menunya nasi minyak dan gulai kambing.

Tidak tanggung-tanggung panitia sudah menyiapkan 60 ekor kambing dan 7 kwintal beras sebagai menu bersantap bagi para jamaah yang mengikuti Haul dan Ziarah Kubra. Dan yang paling menarik adalah seluruh rangkaian kegiatan Haul dan Ziarah Kubra ini tidak ikenakan biaya apapun alias gratis.

Tradisi kaya ilmu dari salafunassholeh nan unik ini patut disebarluaskan keberadaannya untuk menambah khazanah pengetahuan dan kebudayaan Islam di Nusantara dan di Dunia.

TV journalist, traveler, writer, blogger, taekwondo-in and volunteer. Bookworm, coffee addict, chocolate and ice cream lovers

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

HTML Snippets Powered By : XYZScripts.com
Skip to toolbar