Review,  Review Film

Ketika Cinta Bertasbih

Sharing is caring!

Ternyata tidak hanya novel garapan Habiburahman El Shirazy yang laris manis. Film yang mengadopsi novelnya pun ikutan laris manis. Meski tidak seberuntung Ayat – Ayat Cinta yang benar – benar sukses. Film Ketika Cinta Bertasbih pun boleh dikatakan sukses.
kcb_01Karena jujur untuk mencari film yang islami agak sulit, sehingga hiburan yang hadir dengan nuansa islami pun langsung diserbu.
Dan lagi – lagi tema cinta selalu menjadi tema yang paling diburu oleh para kaum remaja utamanya.
Meskipun di film pertama kemarin ceritanya agak loncat-loncat, tapi lumayanlah. Setidaknya syuting di Mesir dan keindahannya menjadi daya tarik tersendiri.
Banyak pelajaran dari film ini tentunya, meski dibalik itu tak sedikit kritik pun mengiringinya. Jujur film ini memberikan pencerahan, tentang Jodoh, Maut dan Rezeki adalah milik Allah SWT.
ketika-cinta-bertasbih-2Sebagai manusia, kita hanya bisa berencana. Seperti pemeran utama Abdullah Khairul Azzam  seorang mahasiswa Indonesia yang datang jauh-jauh dari pelosok desa di pulau jawa untuk melanjutkan studinya di Mesir. Tanpa henti berusaha untuk memberikan yang terbaik bagi keluarganya, menafkahi, menyekolahkan adiknya.
Setiap kerja keras akan memberikan hasil dengan kekhlasan hati ia harus berkorban dengan menjadi penjual bakso dan pembuat tempe. Dan ternyata bakso pun menjadi andalan, keren juga loh bakso cinta, dengan bentuk hati. weleeeh… ini patut ditiru karena di Palembang belum ada tuh. Huhuhu… dasar masih tetap saja jadi plagiat.
Lulus S-1 dari sebuah perguruan tinggi yang memiliki pengaruh wibawa “kealiman”, tidak menyebabkan Azzam mendapat kemudahan dalam segala urusan. Dia bahkan gamang untuk mendapatkan pekerjaan yang pas.
Belum lagi cibiran tetangga yang mengira bahwa lulusan Al-Azhar University otomatis menjadi kiyahi, atau ulama besar. Itu kenapa sang ibu menjadi gelisah, bahkan menyuruh adik Azzam, Husna untuk mencarikan pekerjaan, apa saja yang penting asal kesannya bekerja, keluar dari rumah.
Ini benar  – benar alami, kejadian hampir terjadi di setiap pribadi yang baru lulus. Apalagi kalau sudah mengambil Strata 2 , beban makin berat.

Dengan latar belakang pengalaman berwirausaha selama di Mesir, Azzam pun tidak patah semangat untuk membangun usahanya sendiri. Tetapi bagaimana dengan menikah, hal yang selalu disinggung oleh ibunya.

Hahahhaha… ternyata sama juga ya , setiap kali ditanya kapan menikah, dan kegamangan akan hal ini. Toh setiap manusia dilahirkan berpasang-pasangan. Jadi jangan menyerah.

Terbukti Azzam akhirnya menikah dengan wanita yang ia dambakan, Anna Althafunnisa. Setelah dipinang sahabatnya sendiri dan pernikahannya kandas. Bahkan begitu banyak calon yang hadir di hadapan Azzam.

Begitulah Allah menetapkan jika sudah menjadi ketetapan dan milik kita akan tetap menjadi kita, jika tidak walaupun sudah sekuat tenaga mempertahankan juga tidak akan menjadi milik kita.

TV journalist, traveler, writer, blogger, taekwondo-in and volunteer. Bookworm, coffee addict, chocolate and ice cream lovers

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

HTML Snippets Powered By : XYZScripts.com
Skip to toolbar