Lifestyle,  Review,  Review Buku

Garis Perempuan

Sharing is caring!

Judul Buku    : Garis Perempuan

Pengarang     : Sanie B. Kuncoro

Penyunting   : Imam Rasdiyanto

Penerbit         : Bentang

Cetakan          : I , Januari 2010

Tebal              : 375 Halaman

Novel berjudul Garis perempuan ini menceritakan tentang bahasan yang tidak pernah lelah untuk dikupas, dipelajari dan dicari jalan keluarnya. Perempuan  terus menjadi topik hangat di suatu Negara, mulai dari zaman purbakala hingga kini kaum perempuan terus menjadi bahan eksploitasi tanpa bisa membela diri, begitu mereka berteriak membela saat itulah semakin banyak cacian dan hujatan mengarah pada kaum lemah ini. Apakah memang perempuan menjadi kaum termarginalkan.

Dalam hadist yang diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim

“Berwasiatlah kalian dengan kebaikan kepada para wanita (para istri)1, karena wanita itu diciptakan dari tulang rusuk…” Dalam satu riwayat: “Wanita itu seperti tulang rusuk….” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Karenanya, perempuan merupakan makhluk lemah yang harus dilindungi dan diberikan pengarahan maupun pendidikan secara lemah lembut tanpa kekerasan.

Penulis Sanie B Kuncoro dalam noverl perdananya ini mengambil setting daerah di Jawa Tengah ini, mengisahkan tentang persahabatan empat wanita mulai dari mereka kecil hingga dewasa. Adalah Ranting, Gendhing, Tawangsri, dan Zhang Mey dengan empat jalan nasib yang berbeda memaknai keperawanan bersama empat lelaki.

Bagi perempuan keperawanan itu layaknya sebuah anugerah namun disisi lain justru malapetaka. Keperawanan menjadi hal yang terus dibicarakan hingga saat ini. Hampir sebagian besar masyarakat mengatakan keperawanan sangat penting. Karena jika perempuan yang belum menikah tapi tidak perawan lagi akan dihujat, dikecam dan dikucilkan dari masyarakat.

Tentunya sebagai pemilik yang sah, perempuan-lah yang paling berhak dan berkepentingan dengan keperawanan mereka. Namun sayangnya banyak perempuan terpaksa harus kehilangan miliknya yang  paling berharga itu demi sesuatu yang sesungguhnya tidak dia inginkan.

Ditengah kemiskinannya, Ranting terpaksa harus pasang badan demi melunasi hutang  puluhan juta untuk biaya operasi ibunya. Ranting pun tak punya banyak pilihan dengan mengandalkan hasil jualan karak (semacam kerupuk yang terbuat dari beras), untuk melunasi hutangnya dan membiarkan ibunya dalam penderitaan terus menerus. Pilihan sulit pun datang menghampirinya agar rela dijadikan istri ketiga dan seluruh hutangnya lunas.

Hampir sama seperti yang Ranting  yang mengalami persoalan yang serupa. Gendhing, juga terpaksa melakukan hal yang sama, menyelamatkan orang tuanya yang hanya sebagai tukang becak, dan ibunya tukang cuci pakaian dari lilitan hutang. Meski telah menamatkan SMA dan bekerja di salon milik majikan ibunya. Namun hal itu tidak bisa menyelesaikan persoalannya.  Karena bakti kepada orang tuanya, Gending pun harus menerima solusi pelunasan utang dengan penyerahan dirinya.

Kedua kasus ini serupa ini, kemiskinan menjadi hal yang selalu membuat perempuan terpaksa melakukan hal yang tidak diinginkannya. Kehilangan cita – citanya. Nilai keperawanan memiliki harga yang tinggi bagi kaum lelaki yang ingin merasakan sebuah symbol keperawanan.  Begitulah yang terjadi pada Ranting dan Gending yang menjual keperawanan mereka untuk sebuah tujuan menyelamatkan orang yang dicintainya.

Sementara itu, disisi lain Tawangsri dan Zhang Mey. Keduanya jauh lebih beruntung dari dua sahabatnya yang sejak kecil harus berjuang bertahan hidup. Sri dan Zhang dengan kehidupan sosial ekonomi menengah atas membuat mereka bisa kuliah tanpa harus pusing dengan biayanya. Keduanya memiliki lebih banyak pilihan dalam hidup, termasuk makna keperawanan mereka.

Kisah yang diungkapkan oleh penulis yang menetap di Solo ini seolah membuka cakrawala tentang keperawanan yang masih merupakan sesuatu yang dianggap penting. Baik oleh perempuan dan terutama lelaki, khususnya pada masyarakat Timur. Latar budaya Jawa dan Tionghoa, novel ini sangat feminis, dan membacanya seperti tidak menjadi terhakimi.

Sebagai seseorang yang belum menikah, dan melihat beberapa teman – teman yang telah menikah. Ternyata masih banyak kaum pria yang mencari seorang calon istri perawan. Pasalnya keperawanan seperti symbol yang memberikan  kebanggaan bagi suami menjadi yang pertama memecahkan perawan istrinya. Seolah – olah keperawanan adalah bukti kesucian seorang perempuan. Sehingga jika perempuan yang belum menikah tetapi tidak perawan adalah perempuan yang tidak baik. Dan cap itu akan terus bertengger di diri wanita dan seolah dunia ikut menghakimi mereka.

Inilah kejamnya dunia, betapa pun berhasilnya seorang perempuan namun mereka tetap dinilai berdasarkan masa lalu berbeda dengan laki – laki yang dilihat dari masa depannya dan tidak penting seburuk apapun masa lalunya. Budaya ini seolah mengakar di masyarakat. Perempuan harus untuk menjaga kehormatannya (keperawanannya) dan dianugerahkan hanya untuk orang yang dicintainya.

“Begitulah agaknya. Perempuan dan seksualitasnya bisa menjadi mesin penakluk yang efektif”

Haruskah seorang perempuan menyandang identitas dirinya sebagai perawan atau bukan perawan?  Toh pada akhirnya, setiap perempuan adalah perawan…

TV journalist, traveler, writer, blogger, taekwondo-in and volunteer. Bookworm, coffee addict, chocolate and ice cream lovers

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

HTML Snippets Powered By : XYZScripts.com
Skip to toolbar