Kita tak tahu dan tak pernah pasti tahu hingga semuanya berlalu. Benar atau salah, dituruti atau tidakย  dituruti, pada akhirnya yang bisa membuktikan cuma waktu. Dan itu yang membuat kita kadang bertanya : lalu, untuk apa? Untuk apa diberi pertanda jika ternyata tak bisa mengubah apa-apa? Untuk apa tahu sebelum waktunya?

“Memang tidak mudah menerima pertanda, menerima diri kita yang dikirimi pertanda, dan menerima hidup yang mengirimkan pertanda. Firasat tidak menjadikan kita lebih pandai dari yang lain. Seringkali firasat menjadi siksa.”

Jadi Untuk apa kita semua ada disini ?

” Untuk belajar menerima”

Saat kita belajar menerima, kita juga belajar berdamai. Melalui firasat kita belajar menerima diri, dan berdamai dengan hidup ini.

“Kadang-kadang pilihan yang terbaik adalah menerima…”

Firasat “Rectoverso” – Dee

Written by

suzannita

TV journalist, traveler, writer, blogger, taekwondo-in and volunteer. Bookworm, coffee addict, chocolate and ice cream lovers