Pelajaran Kesabaran Kenapa Tidak Lebih Sabar

Teman : Mbak Zan, tadi ada telepon dari  ………   (Operator Terbesar di Indonesia)

Suzan : Kenapa ??? Ada liputan ya ???

Teman : Enggak, tapi mohon maaf loh mbak, ini bukan karena lancang

Suzan : Emang ada apa ?

Teman : Tadi kupikir   ………    mau ngasih liputan, tapi ternyata dia bilang mau nagih tagihan telpon mbak yang belum dibayar.

Suzan : Apa …. ????

Teman : Ada apa mbak ???

Suzan : Tidak apa – apa, aneh saja sih, kenapa mereka tidak profesional seperti itu, btw  thanks ya

disappointedItulah sedikit hasil percakapan dengan teman sekantorku tadi, sekitar jam 15.15 WIB.  Setelah itu, aku langsung menelpon operator dan komplain, kenapa mesti melakukan hal yang kunilai tidak  profesional.

Operator terbesar di Indonesia dan plat merah ini berlaku tidak profesional dengan menelpon ke kantor menagih tagihan, tapi tidak langsung berbicara secara pribadi denganku melainkan dengan operator telepon kantorku.

Apakah ini etis ???

Idealisme teraca tercabik , ini tidak boleh terjadi, padahal belum jatuh tempo, kenapa mesti mengingatkan dengan cara seperti itu. Toh, ada cara lain yang lebih baik dengan menelpon langsung ke handphone ku yang mereka juga tahu nomornya. Ini juga belum jatuh tempo.

Toh, kalau diriku telat membayar juga, aku tidak bisa menikmati layanan mereka. Aku berusaha bersabar dan meredam emosi. Dan akhirnya hari ini aku kalah melawan diri sendiri, diriku tidak berlaku sabar.

Pelajaran kesabaran, kenapa tidak lebih sabar ???

Ketahuilah bahwa sabar, jika dipandang dalam permasalahan seseorang adalah ibarat kepala dari suatu tubuh. Jika kepalanya hilang maka keseluruhan tubuh itu akan membusuk. Sama halnya, jika kesabaran hilang, maka seluruh permasalahan akan rusak. Khalifah ‘Ali

fiture iphone 3gAkhirnya diriku berpikir mungkin itu karyawan baru, sehingga belum bisa berlaku profesional, atau ya memang tidak profesional. Atau mungkin karena perusahaan plat merah ini telah tertinggal dan kalah saingan. Ah … itu tidak juga menjadi alasan mereka melakukan hal demikian.

Sebagai pelanggan, aku pernah mendapatkan tagihan hingga lebih dari Rp 900 ribu (bukan bermaksud sombong) tapi mereka tidak menagih – nagih seperti debt collector seperti saat ini. Saat ini diriku sudah bisa mengontrol pemakaian telponku, maksimal hanya Rp 200 ribu , tapi koq ditagih – tagih seperti ini. Aduh buat malu aja … malunya itu loh ….

Ketika aku menagih temanku yang punya hutang, dan menagih langsung melalui SMS , aku masih berpikir itu tidaklah sopan, bagaimana kalau aku menitipkan omongan ke orang tuanya , adiknya atau  temannya ya. Tidak habis pikir diriku kenapa perusahaan sebesar itu, melakukan hal yang kunilai itu menjatuhkan kredibilitas mereka, sebagai OPERATOR TERBESAR di Indonesia yang menargetkan bisa memiliki 100 ribu pelanggan tahun ini.

Jika mereka melakukan hal seperti ini, aku sedikit ragu karena saingan operator ini mulai memberikan peningkatan pelayanan, dan harga yang kompetitip. Allah tidak menyukai orang yang sombong.

Kembali lagi ke diri ini, pelajaran kesabaran ini cukup mendalam. Kenapa tidak lebih sabar … Aaaaaghhhrhrrrr… aku merasa menyesal sekali, karena melakukan kebodohan dan mengotori hati ini.

Ya Allah ampunilah aku…

Aku tahu sabar,  bukan pasrah menyerah, sabar bukan lemah, sabar bukan pasif, sabar dalam menghadapi apapun yang Kau berikan. Sikap terbaik yang di sukai Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Semakin kita meminta sabar dan kesabaran, saat itulah Allah memberikan pelajaran untuk kita.

Firman Allah, ”Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga serta bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung.” (QS 3: 200)

Semoga diri ini menjadi lebih terlatih untuk menjadi golongan orang – orang yang bersabar.

2 thoughts on “Pelajaran Kesabaran Kenapa Tidak Lebih Sabar”

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Translate »
HTML Snippets Powered By : XYZScripts.com