Jepang,  Lari,  Tokyo Marathon

Tokyo Marathon 2018 Senangnya Bawa Medali Pulang

Sharing is caring!

Sebelum race saya sudah berada di hostel sejak pukul 6 sore, saya menyegerakan waktu makan malam dan berharap bisa segera beristirahat. Namun saya terlalu gugup menghadapi race Tokyo Marathon. Akibatnya maag saya kambuh malam itu, badan tidak enak.

Saya langsung minum obat dan berusaha segera memejamkan mata, namun jam demi jam terus berlalu tapi pukul 12 malam saya masih belum bisa terlelap. Entah jam berapa saya bisa tertidur malam itu, saya hanya berdoa agar diberikan keselamatan menyelesaikan race dan bisa pulang membawa medali Tokyo Marathon 2018.

Saya bangun pukul 4.30 pagi dan mulai mempersiapkan diri. Meski udara dingin, saya paksakan untuk mandi. Saya balurkan obat gosok Wong To Yick yang saya beli di Hongkong. Obat ini bisa menghilangkan rasa sakit secara cepat.

Setelahnya saya langsung sarapan dengan roti dan cokelat panas. Di Hostel DEN, tempat saya menginap ada juga sesama peserta Tokyo Marathon asal dari Philipina. Hanya saja saya sudah selesai sarapan sementara mereka baru turun. Sebelum berangkat saya menunaikan sholat Subuh terlebih dahulu, meminta kelancaran untuk race agar bisa masuk finish dan bawa pulang medali Tokyo Marathon 2018.

Karena saya tinggal bukan di kawasan garis start, saya harus menggunakan Subway untuk menuju lokasi start. Garis start sendiri berada di  Tokyo Metropolitan Government Building di Shinjuku. Pihak panitia menyediakan Kartu Subway khusus yang bisa digunakan selama 24 jam secara gratis pada saat pelaksanaan Tokyo Marathon 2018.

Perjalanan dari Nihonbashihoncho daerah saya tinggal  ke garis start ditempuh sekitar 30 menit menggunakan subway. Di beberapa stasiun sudah mulai banyak pelari lain. Karena mengantuk saya sempatkan tidur sebentar.

Akhirnya saya tiba di Shinjuku station, saya berjalan menuju garis start. Terlihat Tokyo Metropolitan Government Building sudah menyapa saya. Udara pagi itu begitu dingin, cuaca menunjukkan 3 derajat celcius. Selain itu langit begitu gelap, suasana hari itu mendung dan dingin sekali. Padahal di prakiraan cuaca hangat dengan suhu 7 derajat celcius.

Sebelum masuk garis start, kami harus melewati pemeriksaan, petugas melakukan scan di gelang yang peserta gunakan. Setelah itu kami melewati pemeriksaan tas yang kami bawa. Pasalnya peserta tidak diperbolehkan membawa air minum dan spray penghilang rasa sakit.

Usai melewati gate pemeriksaan saya pun mencari toilet karena mendadak saya nervous a.k.a gugup. Toilet menjadi tempat yang paling ditunggu oleh para peserta marathon. Inilah toilet yang disediakan panitia, sebenarnya di sisi lain juga berjejer sama karena luasnya dan banyaknya peserta yang antri, hanya bisa tercapture seperti ini.

Setelah antri dan menuntaskan perjuangan di toilet saya mulai melakukan pemanasan kecil. Pelari dari seluruh dunia bercampur menjadi satu. Saya tidak bertemu dengan teman-teman pelari dari Indonesia yang keburu sudah menuju blok start.

Ada juga peserta yang menitipkan barang bawaan. Saya sendiri sebenarnya memilih penitipan namun saya tidak menitipkan barang yang saya bawa. Karena saya meminimalkan barang bawaan.

Di Tokyo Marathon ini start dibagi per blok, saya mendapatkan blok C, setelah dipikir-pikir pembagian blok ini berdasarkan catatan waktu finish marathon. Saya melakukan kesalahan dengan mengisi catatan waktu Half Marathon saya.

Saya beruntung bertemu dengan Mbak Rieta Santoso, pelari Indonesia di group Run for Indonesia yang juga start di blok C, sama seperti saya. Sebelumnya di Hongkong Marathon 2018 di bulan sebelumnya, saya juga bertemu dengan mbak Rieta di MTR saat pulang dari lokasi race.

Disini para pelari sudah siap dengan jacket, blanket maupun ponco plastik untuk menghalau udara dingin. Saya sesekali mengusapkan telapak tangan untuk mengurangi rasa dingin. Sarung tangan dan masker yang saya pakai pun tidak mampu melindungi saya dari dinginnya hari itu.

Lagu nasional Jepang dikumandangkan, dan setelahnya terdengar elite runners sudah start. Saya pun mulai berlari dan saling mendoakan dengan mbak Rieta untuk bertemu di garis finish.

Sepanjang jalan sisi kiri dan kanan dipenuhi oleh masyarakat Tokyo ataupun penonton. Mereka mendukung keluarga, teman, saudara, atau hanya untuk mendukung semua peserta Tokyo Marathon 2018. Saya berpikir hanya beberapa kilometer saja dukungan ini ada. Tapi saya keliru, setelah melewati setiap kilometer saya melihat jalanan masih dipenuhi oleh teriakan Ganbate… Ganbate… Bahkan sesekali ada yang meneriakan INDONESIA. Mendengar nama negara saya disebut, saya semakin semangat untuk berlari.

Ternyata hingga 15km euforia masyarakat Tokyo maupun pendukung pelari masih memenuhi jalanan. Mereka menawarkan bantuan, saya sendiri yang lepas ikatan sepatu dibantu oleh seorang wanita Jepang untuk mengikatkan tali sepatu saya. Bahkan ada yang menyediakan permen, cokelat dan anggur. Selain itu ada juga masyarakat Tokyo yang menyediakan spray penghilang rasa sakit.

Setiap 2,5km ada hidrasi point mulai dari air putih hingga pocari. Saya pun memanfaatkan titik meja terjauh untuk menghindari antrian. Hingga half way alias 21km setiap water station memberikan hal yang berbeda mulai dari  jeruk, anggur, cokelat. Tidak hanya itu para masyarakat Tokyo juga menyediakan aneka makanan,  ada udon, glukosa, cokelat, roti, onigiri hingga fresh strawberries dan lemon. Bahagianya karena hingga finish pun saya tidak merasa lapar.

Tidak hanya itu para pelari juga dihibur oleh berbagai pertunjukan menarik, mulai dari permainan musik dari berbagai klub paduan suara baik anak-anak hingga tentara. Maupun pertunjukan seni budaya Jepang. Saya pun menyempatkan untuk foto-foto di spot menarik.

Tantangan terbesar dari Tokyo Marathon adalah Cut Of TIME (COT) yang sangat ketat setiap 5km. Sehingga sebagai pelari lambat saya harus berjuang untuk melewati COT tersebut.  Bus berwarna kuning menghantui para pelari, bahkan mereka yang terjebak COT menangis. Saya sendiri di km.30 hampir jatuh semangat, karena dititik inilah sebenarnya perjuangan para pelari marathon baru dimulai. Perjuangan melawan diri sendiri. Saya berkata kepada diri saya, saya harus masuk garis finish dan membawa pulang medali Tokyo Marathon 2018.

Akhirnya saya melihat penunjuk 42km, betapa bahagianya. Setelah melewati drama perjuangan bersama 36ribu pelari dari seluruh dunia  yang memiliki impian yang sama bisa finish di Tokyo Marathon. Saya berterima kasih untuk foto-foto saya yang diambil oleh panitia saat masuk garis finish (btw foto-foto ini bisa didapatkan dengan nilai yang cukup mahal, untuk 140 foto milik saya totalnya mencapai 3 juta , jika satuan sekitar 500ribu)

Beberapa teman-teman dari tim Indonesia untuk Tokyo Marathon 2018 yang saya temui setelah finish. Ada juga Susan Bachtiar, Ce Shien Li, Mbak Rieta Santoso. Sayangnya tidak bisa foto dengan Melanie dan Haruka, Mas Apri, Santri, Mas Toro, Mbak Sisca, Mbak Andri Sari, Mbak Lisa, Mbak Lia, Amel dan yang lain juga. Congratulations for all of us.

Tokyo Marathon 2018 ini menjadi pengalaman yang tidak terlupakan bagi saya. Bagaimana harus berjuang untuk melewati Cut of Time setiap 5K. Bagi yang ingin berlari di Tokyo Marathon, boleh membuat catatan kecil untuk catatan waktu yang harus kalian tempuh setiap 5k.

Memang benar yang diucapkan jika Full Marathon itu bukan hanya sekedar kekuatan endurance dan otot semata, tapi lebih dari itu ada kekuatan mental, harus punya semangat dan motivasi yang tinggi dan yang terpenting adalah banyak berdo’a agar bisa menyelesaikan race dengan selamat .

Alhamdulillah saya bisa masuk finis dan membawa pulang medali Tokyo Marathon 2018 ini. Semoga suatu saat nanti diberikan kesempatan untuk berlari di Tokyo Marathon kembali.

TV journalist, traveler, writer, blogger, taekwondo-in and volunteer. Bookworm, coffee addict, chocolate and ice cream lovers

11 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

HTML Snippets Powered By : XYZScripts.com
Skip to toolbar