Event · Hongkong · Lari · Lifestyle

Standard Chartered HK Marathon 2018 Penuh Cerita

Sharing is caring!

Standard Chartered Hong Kong Marathon 2018 ini merupakan race pertama saya di tahun 2018 ini. Sejak awal target saya hanya bisa finish sebelum COT (cut of time). Apalagi saya sedang mempersiapkan diri untuk race Tokyo Marathon 2018 yang dihelat 25 Februari 2018.

Tiba-tiba semuanya berubah menjadi hal yang mendebarkan bak tersetrum listrik ternyata waktu yang harus diselesaikan para pelari adalah 6 jam dari gun time.  Standard Chartered HK Marathon 2018 pada Minggu, 19 January 2018 menjadi tantangan tersendiri bagi saya.

Selain kejutan COT 6 jam, saya juga mendapatkan kejutan lain. Dan itu sejak di pesawat menuju Hongkong. Adalah Aprizal yang mengejutkan saya dengan langsung menyapa nama saya saat dia mau duduk di barisan kursi pesawat Air Asia yang kami tumpangi. Penerbangan selama 3,5 jam itu berlalu tanpa kami sadari karena sibuk mengobrol. Cerita berbagai topik tidak hanya lari saja.

Aprizal sendiri merupakan pelari dari Indonesia yang juga menjadi peserta SCHK Marathon 2018. Sebenarnya saya tidak begitu mengenalnya, hanya tahu dia pernah menjadi peserta Standard Chartered KL Marathon 2017. Akhirnya dia menjadi race companion saya di SCHK Marathon 2018 ini.

Runners Pack Collection 

Saya mengambil race pack pada Sabtu, 18 Januari 2018. Setelah tiba di Hongkong pada Jum’at malam.  Swimming pool Hall Kowloon Park menjadi tempat RPC (runner’s pack collection). Tidak ada exhibition yang biasanya digelar saat pengambilan racepack seperti race lainnya. Pihak panitia telah menggelar expo 2 minggu sebelum RPC.

Pihak panitia secara khusus mengirimkan overseas runner’s pack collection letter tentang pengambilan racepack. Surat dalam bentuk surat fisik ini dialamatkan ke masing-masing peserta. Didalamnya selain berisikan informasi lokasi pengambilan racepack juga terdapat nomor BIB dan kategori yang dipilih termasuk barisan start.

Saat pengambilan racepack ternyata surat ini sangat berguna, bagi yang memiliki collection letter mendapatkan tempat antrian yang berbeda dengan yang tidak mendapatkan surat. Selain itu setiap kategori lari juga mendapatkan barisan yang berbeda.

Tidak membutuhkan waktu yang lama, saya sudah mendapatkan paket perlengkapan untuk race besok hari. Setiap kategori peserta mendapatkan warna tas yang berbeda. Untuk kategori Full Marathon seperti saya, mendapatkan tas berwarna  pink. Sedangkan Half Marathon berwarna cokelat dan biru untuk kategori 10K.

Di race kali ini, Yuk Leni, manager HRD di tempat saya bekerja ikut serta menjadi salah satu peserta. Setelah terbius dengan suasana expo dan race SCKL Marathon 2017, akhirnya Yuk Leni memberanikan diri untuk ikut sebagai peserta kategori 10K.  Awalnya Bunda Een, manager program saya  juga mendaftarkan diri dan diterima sebagai peserta. Namun akhirnya Bunda Een memutuskan tidak mendaftar.

The Day “SCHK 2018”

Jika di beberapa race yang saya ikuti sebelumnya, start dan finishnya ditempat yang sama. Berbeda untuk SCHK Marathon ini, start untuk tiap kategori juga berbeda. Untuk peserta Full marathon mengambil start di Nathan road, Kowloon. Karena start dengan jam dan tempat yang berbeda dengan Yuk Leni, saya pergi sendiri ke garis start.

Keluar dari hotel pukul 3.30 pagi sendirian menjadi pengalaman tersendiri bagi saya. Dari Kwok Wah otel tempat saya menginap, saya berjalan menyusuri Nathan Road menuju stasiun MTR. Ternyata MTR baru beroperasi pukul 4.16. Satu persatu peserta lari Full Marathon yang lain mulai berdatangan dan saya merasa tidak sendiri. Ketika kereta tiba ternyata di dalamnya sudah banyak para peserta marathon lainnya.

Tiba di stasiun Tsim Tsha Shui, ternyata sudah banyak pelari yang melakukan pemanasan. Saya sendiri menuju outlet Adidas. Meski bukan sebagai sponsor namun Adidas membuat toko sejak dini hari dan menggelar acara dengan pemasangan tattoo temporary logo Adidas dan booth untuk foto-foto.

Afrizal yang menginap di kawasan Kowloon tiba, karena masih banyak waktu sembari menunggu start, kami menyempatkan untuk foto-foto. Udara pagi itu 18°C cukup dingin untuk ukuran saya yang tidak tahan dingin.

Sebanyak 60 ribu pelari dari berbagai negara ikut menjadi peserta dalam SCHK Marathon 2018 ini, mulai dari kategori Full Marathon, Half Marathon, 10K dan 5K. Saya tergabung di Marathon 1 dengan start pukul 6.30. Para elite runner’s tergabung di Marathon Challenge dengan start pukul 05.30.

Sebelum race saya shalat Shubuh terlebih dahulu di Masjid Kowloon.  Usai shalat saya langsung masuk ke barisan tunggu. Setelah rombongan marathon challenge 2 lari, giliran marathon 1 maju.

Dan gun time pun berbunyi, saya berlari dengan pace 7-8. Afrizal  menjadi pacer saya, beruntung  memiliki teman yang membersamai saya di race ini.

Kami harus melewati check point sebelum batas waktu. Mulai dari km.15, km.20, km. 30, km.35, km.40 sebelum batas waktu. Bagi pelari yang tidak mencapai setiap pos, panitia menyediakan bus penyapu pelari-pelari tersebut.

Jalan tol dan Jembatan yang menghubungkan Hongkong dan Hongkong Island menjadi rute di SCHK Marathon. Rute pun sangat steril dan bebas dari kendaraan.

Water station di setiap 2,5km dan tim kesehatan serta toilet di setiap 5km. Entah karena nervous, saya pun bolak balik toilet. Saya mengalami cedera di km.25, step light di jalan raya Hongkong ini jauh lebih tinggi dengan pelindung luarnya. Saya tersandung step light tersebut saat berlari membuat saya terjatuh karena cramps.

Seorang photographer yang berjarak 50meter langsung berlari kearah saya. Afrizal yang lebih dulu menolong mencoba menjelaskan apa yang terjadi. Tiba-tiba seorang dokter yang menjadi peserta lari  melintas  dan langsung menolong saya. Setelah saya berdiri dan mulai berjalan , tiba-tiba ada peserta lain yang jatuh karena step light. Dia mengalami luka di kepala dan kaki.

Menurut saya race SCHK Marathon ini  rutenya sangat menantang, selain karena udara dingin dan yang pasti terutama waktu COT 6 jam.

Selain itu banyak cheering yang diberikan oleh masyarakat Hongkong mulai dari menyemangati juga memberikan minuman dan makanan. Sayangnya di race kali ini, Tim kesehatan tidak menyediakan spray penghilang sakit.

 

Meski demikian saya beruntung mengikuti race ini. Beberapa pelari dari Indonesia  memberikan semangat untuk terus berlari. Dan saat di MTR juga bertemu dengan pelari Indonesia lainnya dari group Run for Indonesia.

Digaris finish giliran Yuk Leni, Bunda Een dan Kak Devi a.k.a Cek Maria yang sudah menunggu. Setelah makan siang, kami pun bergegas pulang ke hotel. Terima kasih untuk Afrizal, sang dokter, sang photographer yang sudah memberikan pertolongan  di race ini.

See you on another race.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *