Palembang,  Travelling

Napak Tilas Kampung Arab Al Munawar

Sharing is caring!

Sebagai kota tertua di Indonesia, Palembang memiliki sejarah panjang yang begitu indah untuk ditelusuri. Salah satunya adalah Kampung Arab Al Munawar Palembang. Kawasan Kampung Arab Al Munawar ini merupakan kampung Arab tertua yang berada di kawasan seberang Ulu Palembang.

Kampung Arab Al Munawar berada di tepian Sungai Musi Palembang persisnya terletak di kawasan 13 Ulu Palembang. Untuk menuju Kampung Arab Al Munawar ini pengunjung bisa menggunakan jalur darat maupun jalur air dari Sungai Musi.

Di kampung Arab Al Munawar ini, juga terdapat rumah Kapten Arab, yang juga sama dengan etnis lain  Cina dan India, pada 1825, Pemerintah Belanda di Palembang melakukan pendekatan dengan para pemimpin kaum baik Arab, Cina maupun India. Dan ditunjuk pemimpin kaum dari setiap suku bangsa dengan pangkat Kapten. Ahmad Al Munawar yang wafat pada 1970 menjadi Kapten terakhir di Kampung Arab Al Munawar ini.

Sama seperti perkampungan tua di tepian Sungai Musi Kampung Arab Al-Munawar yang terletak di kawasan 13 Ulu, Palembang ini memiliki keunikan dan ciri khas tersendiri yang mengundang daya tarik orang untuk datang berkunjung.

IMG_20160212_122954

Di Kampung Arab Al Munawar ini terdapat delapan rumah yang kini sudah menjadi cagar budaya. Awalnya kampung Arab ini didirikan oleh Habib Abdurrahman Al Munawar yang merupakan Kapten Arab di Palembang. Sultan Palembang Darussalam menghadiahkan kawasan 13 Ulu sebagai tempat bermukim kaum Arab.

Kampung Arab ini juga sama tuanya seperti kampung Kapiten China di kawasan 7 Ulu Palembang, dan Kapten India di Kertapati, Palembang. Umumnya rumah-rumah yang ada di kampung ini adalah berkonstruksi rumah panggung.

IMG_20160212_123031
Rumah Kembar Laut

Kondisi kampung Arab Al Munawar ini masih asli sejak ratusan tahun lalu hingga saat ini, tetap sama seperti dulu dan tidak ada perubahan sama sekali. Dari total  17 bangunan rumah yang ada di kawasan Kampung Arab Al Munawar ini, hanya delapan rumah saja yang menjadi cagar budaya.

Kedelapan rumah tersebut mulai dari Rumah Tinggi, Rumah Kembar Laut, Rumah Limas hingga Rumah Batu. Dan jumlah penduduk di kampung Arab ini hanya sekitar 300 orang atau sekitar 30 kepala keluarga. Umumnya mereka berprofesi sebagai pedagang sekaligus menjadi ustadz, penceramah ataupun guru mengaji.

IMG_20160212_122401

Saat tiba di kompleks pemukiman kaum Arab ini, suasana syahdu langsung mendera di hari. Seperti melintasi lorong waktu kita disajikan pemandangan rumah-rumah tua yang usianya lebih dari 300 tahun.

Rumah-rumah berkonstruksi kayu dan rata-rata rumah panggung, hanya ada 2 rumah yang dibangun bukan menjadi rumah panggung yakni rumah batu dan rumah limas. Arsitektur bangunan di Kampung Arab Al Munawar ini merupakan perpaduan antara Timur Tengah, Palembang dan Eropa. Bangunan rumah dengan menggunakan bahan utama kayu unglen yang terkenal dengan kekuatannya dan anti rayap serta sebagian menggunakan batu.

IMG_20160212_120405
Rumah Tinggi

Rumah pertama milik Habib Abdurrahman disebut sebagai rumah tinggi berarsitektur rumah limas berpadu sentuhan  Timur Tengah dan Eropa. Hal ini bisa dilihat dari bentuk tangga, baik luar rumah maupun di dalam.

IMG_20160212_120416
Rumah Limas

Ada juga Rumah Batu yang seluruhnya dibangun dengan menggunakan batu. Sentuhan Timur Tengah dan Eropa terlihat dari penggunaan tehel (ubin) marmer atau lantai rumah. Sentuhan ini semakin membuat seluruh sudut dari Kampung Arab Al Munawar ini begitu instagramable.

Dan konon marmer ini sengaja didatangkan langsung dari Italia. Mulai dari yang berukuran sekitar 20 x 30 meter hingga marmer bentuk bujur sangkar 50 x 50 cm yang  dipasang hingga ke teras. Di zaman dahulu, kaum Arab ini memang merupakan saudagar yang berdagang di Palembang.

Sekolah Islam Pertama di Palembang

Kampung Arab yang telah ada sekitar tahun 1206 Hijriah dan didiami keluarga Arab bermarga Al Munawar yaitu Syeikh Abdurrahman Al Munawar. Sebagai bentuk syiar agama Islam didirikan sekolah Islam pertama di Palembang yang berbasis kurikulum pendidikan umum.

Sekolah bernama Al-Kautsar ini hingga kini masih terus eksis. Uniknya sekolah ini hanya libur di hari Jum’at dan tetap bersekolah di hari Minggu. Tidak hanya warga keturunan Arab saja, namun juga penduduk dari kampung sebelah juga ikut bersekolah disini.

Al-Qur’an Tua Bertinta Emas 

Di Kampung Arab Al Munawar ini juga terdapat Al Qur’an bertinta emas yang usianya juga sudah tua yakni sekitar 250 tahun. Al-Qur’an ini sendiri kini tersimpan rapi di Rumah Limas. Karena usianya yang begitu tua, Al-Qur’an ini tidak terlalu sering dibuka dan dibaca.

Al Qur'an

Kawasan Kampung Arab Al Munawar yang sudah dijadikan cagar budaya ini membuat banyak orang datang berkunjung mulai dari pihak  universitas yang melakukan penelitian hingga pelancong dari berbagai daerah dan negara yang datang ke Kampung Arab, termasuk investor dari Arab.

Ada satu pesan yang diharapkan oleh masyarakat Kampung Arab Al Munawar ini, yakni meski mereka dengan tangan terbuka menerima tamu yang datang ke kampung Arab. Namun mereka menginginkan para pengunjung yang datang tetap sopan dan izin untuk datang bertamu. Karena rumah-rumah di Kampung Arab ini masih digunakan sebagai rumah tinggal.

TV journalist, traveler, writer, blogger, taekwondo-in and volunteer. Bookworm, coffee addict, chocolate and ice cream lovers

5 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

HTML Snippets Powered By : XYZScripts.com
Skip to toolbar