Lifestyle,  Personal

Lebaran, Mudik dan Kebersamaan

Sharing is caring!

Mudik lebaran, selama ini saya tidak pernah merasakan arti mudik lebaran yang sebenarnya. Pasalnya memang karena saya lahir, tinggal dan bekerja di Palembang. Kalaupun untuk merasakan apa arti pulang, saat saya melakukan perjalanan baik karena jalan-jalan ataupun karena tugas di luar kota atau luar negeri yang biasanya paling lama hanya dalam hitungan waktu  7 hingga 10 hari saja.

Kali ini di tahun ini, kantor menempatkan saya untuk tugas di luar kota dalam hitungan relatif lebih lama. Meski hanya di Lubuk Linggau saja, hanya berjarak 6 jam dari kota Palembang. Namun saya merasakan momen puasa jauh dari keluarga  dan teman-teman untuk waktu yang lama.

IMG_20160501_191138ok

Perbedaan dan rasa itulah yang membuat momen lebaran dan pertemuan bersama keluarga dan teman-teman menjadi begitu terasa. Saya ikut merasakan bagaimana berburu mencari tiket. Saya pernah merasakan tidak mendapatkan tiket saat libur panjang di bulan Mei.

Kala itu seluruh keluarga berkumpul di Palembang termasuk adik yang tinggal di luar kota pulang liburan. Hanya saya yang tidak mendapatkan tiket ke Palembang dan membuat saya harus berada di Lubuk Linggau selama masa liburan tersebut.

IMG_20160501_191311ok

Pulang bagi saya adalah momen yang begitu menyenangkan. Apapun bentuknya perjalanan itu. Begitupun bagi yang lain tentunya, pulang mudik ke kampung halaman dengan beragam cara dilakukan, baik dengan menggunakan angkutan umum mulai dari bus, kereta api  maupaun pesawat, ataupun dengan menyewa mobil hingga menggunakan kendaraan pribadi entah roda dua atau roda empat memberikan rasa yang tidak bisa tergantikan dengan apapun.

Tahun ini merupakan tahun berbeda bagi saya, yang untuk kali pertama bisa merasakan yang namanya mudik lebaran. Rasa yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, kegembiraan yang begitu luar biasa saat bisa pulang ke kampung halaman.

Perjuangan untuk bisa sampai di tanah kelahiran yang bernama kampung halaman. Berjuang mendapatkan tiket yang tidak dipikirkan lagi berapa harga tiket hingga berdesak-desakan di terminal, stasiun ataupun bandara.

Semua rasa capai itu terhapuskan saat melihat atap rumah, mencium aroma udara yang sangat kental saat di masa kecil. Mungkin seperti itulah yang dirasakan adik saya yang sejak ditempatkan kerja jauh dari Palembang, harus berjuang untuk pulang.

Tahun ini saya merasakan arti mudik ke kampung halaman, arti perpisahan dengan keluarga dan kembali berkumpul merayakan kegembiraan hari nan fitri dan suci, berlebaran bersama keluarga dan teman di kampung halaman.

Selama ini saya tidak pernah memikirkan kenapa banyak orang yang rela berjuang mati-matian untuk mudik lebaran demi bisa berkumpul dengan keluarga. Sebuah hikmah besar yang saya rasakan tahun ini.

Karena di tahun ini saya sangat mensyukuri arti sebuah kebersamaan bisa berlebaran bersama keluarga. Pelajaran yang begitu besar yang saya rasakan saat menerima tugas kantor di tahun ini.

Jika di tahun sebelumnya kami keluarga besar bisa berkumpul bersama berlebaran di Palembang. Sayang di tahun ini  adik dan suaminya tidak bisa mudik ke Palembang karena ada acara hajatan di keluarga suaminya, begitupun dengan para tante (adik ayah) yang tinggal di Batam yang tidak bisa berlebaran di Palembang.

Namun saya mendapatkan pelajaran yang begitu besar tentang mensyukuri arti sebuah kebersamaan dan indahnya berlebaran bersama keluarga. Kebahagiaan terbesar adalah bisa berlebaran bersama Ayah dan Ibu, sungkem meminta maaf untuk setiap salah dan khilaf. Selain itu hal yang patut disyukuri adalah bisa menikmati sajian lebaran masakan ibu mulai dari ketupat, opor, rendang, sambal goreng hingga nasi kebuli.

Selalu ada renungan dibalik setiap Idul Fitri, umur yang makin berkurang dalam hidup yang hanya satu kali ini, dosa yang terasa semakin bertambah banyak dan amalan serta pahala yang belum pernah cukup memenuhi buku kehidupan.

Lebaran juga waktunya bersilaturahmi dan karena silaturahmi memanjangkan umur ayo datang ke event dari Diaryhijaber yaitu Hari Hijaber Nasional :

  • Acara   : Hari Hijaber Nasional,
  • Waktu  : 07 Agustus 2016 – 08 Agustus 2016
  • Tempat: Masjid Agung Sunda Kelapa,  Menteng, Jakarta Pusat

Ini Ceria “Cerita Lebaran Asyik” milikku, mana ceritamu?

TV journalist, traveler, writer, blogger, taekwondo-in and volunteer. Bookworm, coffee addict, chocolate and ice cream lovers

2 Comments

  • Dwi Wahyudi

    Justru karena jarak yang jauh membuat rasa kangen terhadap keluarga semakin besar, apalagi momennya pas ramadhan dan lebaran. Salam kenal dari Pontianak Mbak, semoga tulisannya terpilih ya. Tetap semangat…

    • suzannita

      Salam kenal juga mas Dwi,

      Bener banget mungkin karena itulah mudik selalu menjadi hal yang paling ditunggu bagi mereka yang jauh dari keluarga dan kampung halaman.

      Aamiin… terima kasih ya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

HTML Snippets Powered By : XYZScripts.com
Skip to toolbar