Indonesia,  Lifestyle,  Travelling

Menembus Batas Jelajahi Keindahan Bromo

Sharing is caring!

Hati memang sebuah teka-teki yang abadi. Terkadang kuat, terkadang lemah. – Pasir Berbisik”

Kata-kata di film Pasir Berbisik yang tayang pada tahun 2001 itu begitu melekat di sanubari. Saya pun mencatatkan dalam buku impian untuk mengunjungi Gunung Bromo. Kala itu keindahan lautan pasir dan Gunung Bromo berpadu akting Dian Sastrowardoyo dan Christine Hakiem seolah menarik saya untuk menjejakkan kaki di lokasi shooting film ini. Bahkan karena film ini banyak orang ingin melihat Bromo secara langsung.

Kini, siapa yang tidak mengenal Gunung Bromo.  Destinasi wisata di Jawa Timur ini sangat populer hingga ke mancanegara. Pesonanya menjadi magnet bagi ribuan orang untuk datang. Gunung berapi yang statusnya masih aktif ini menawarkan keindahan alamnya. Mulai dari ngarai, lembah, caldera hingga lautan pasir seluas 10 km. Selain itu penduduk asli Gunung Bromo, suku Tengger dan tradisinya ikut menjadi daya tarik tersendiri.

Gunung Bromo menjadi gunung yang paling terkenal dan paling banyak dikunjungi tidak hanya di Jawa Timur namun juga di Indonesia. Gunung Bromo termasuk dalam kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Malang, Jawa Timur tepatnya di ketinggian 2.392 meter di atas permukaan laut.

Beli Tiket Murah dengan Skyscanner 

Ada banyak cara menuju Bromo, kita bisa memilih alternatif masuk dari Surabaya ataupun dari Malang. Saya sendiri memilih alternatif ke Bromo via Malang. Bagi saya yang tinggal di Palembang, terkadang saya harus membandingkan harga tiket pesawat antara satu maskapai dengan maskapai lain.

Beruntung kini ada skyscanner yang mempermudah saya untuk memesan tiket pesawat. Saya bisa langsung membandingkan harga tiket pesawat tanpa harus kerepotan bolak balik situs maskapai.

Skyscanner ini adalah mesin pencarian tiket pesawat, hotel dan jasa sewa mobil. Berbeda dengan online travel agent yang bisa menjual tiket pesawat dan hotel. Di Skyscanner ini kita bisa menemukan penawaran harga terbaik dan menjadi solusi praktis travel di jaman sekarang.

Skyscanner membuat kita bisa menjelajahi harga tiket pesawat dalam satu bulan bahkan satu tahun kedepan. Sehingga kita bisa mendapatkan harga termurah tanpa biaya tambahan dan bisa langsung memesan  ke maskapai penerbangan maupun travel agent.

Skyscanner ini bisa diakses melalui situs web di www.skyscanner.co.id ataupun langsung dalam genggaman melalui aplikasi Skyscanner di smartphone.

Berbagai fitur ditawarkan oleh Skyscanner, jika ingin memilih waktu termurah untuk liburan bisa menggunakan fitur “Bulan Termurah”. Fitur ini membuat kita bisa mendapatkan harga tiket yang termurah.

Selain itu ada juga fitur “Info Harga” yang membuat kita langsung  mengetahui naik-turunnya harga tiket pesawat. Seperti yang kita ketahui harga tiket pesawat bisa berubah begitu cepat. Informasi ter-update naik turunnya harga tiket pesawat dari berbagai macam maskapai penerbangan akan langsung terkirim ke email.

Caranya jika kita melalui situs web, pilih tiket pesawat ke tujuan dan tanggal yang diinginkan, lalu klik tombol “Dapatkan Info Harga” yang ada di pojok kiri atas, masukkan alamat e-mail kita, lalu klik tombol bertuliskan “Kirim info harga”.

Sementara untuk aplikasi Skyscanner caranya buka aplikasi, lakukan pencarian, klik ikon lonceng yang ada di kanan atas, dan klik “Create”. Pastikan kita memasukkan alamat e-mail yang benar agar pemberitahuan tersebut bisa langsung didapatkan.

Terbang Aman dan Nyaman ke Malang 

Karena saya tinggal di Palembang, saya lebih memilih terbang dengan satu maskapai penerbangan seperti Garuda Indonesia. Pasalnya untuk mengantisipasi jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Jika tiket pesawat Garuda sudah dikantongi saatnya menuju Malang.

Bertolak sejak pagi hari dari Palembang, saya harus transit terlebih dahulu di bandara internasional Soekarno Hatta, Jakarta sebelum melanjutkan penerbangan ke Malang.

Waktu menunjukkan pukul 10.15 WIB saat saya tiba di Bandar Udara Abdulrachman Saleh. Jika dibandingkan Surabaya, bandara di Malang ini jauh lebih kecil.

Setelah mengambil bagasi, saya bergegas melanjutkan perjalanan menuju kota Batu, Malang. Disini saya transit untuk makan siang.

Perjalanan pun dilanjutkan menuju Bromo Cottages, tempat saya menginap selama di Bromo. Saat tiba, udara dingin langsung menyergap ke sekujur tubuh. Jaket, sarung tangan dan syal langsung dipakai agar tubuh hangat.

Jika tidak membawa jaket, sarung tangan dan syal tidak perlu khawatir karena disini banyak pedagang yang menyewakan jaket tebal mulai dari Rp 25.000,-. Ada juga yang menjual topi kupluk, syal dan sarung tangan mulai dari Rp 10.000,-.

Menembus Dinginnya Bromo 

Udara dingin yang menusuk itu membuat saya langsung beristirahat apalagi saya harus sudah siap-siap naik ke Gunung Bromo pukul 3 dini hari. Karena begitu begitu antusias bertemu dengan sang mentari, saya sudah siap sejak pukul 02.30 WIB. Seperti yang dijanjikan, tepat pukul 3 pagi, kami menuju Bromo dengan menumpang kendaraan jeep.

Pos Pemeriksaan – Loket Masuk

Setiap jeep berisikan satu group yang terdiri dari 5 orang. Jeep tahun 80-an yang dikendarai Pak Baston itu menembus kegelapan malam. Terlihat laki-laki berusia hampir 60 tahun itu begitu cekatan mengemudi.  Mobil itu pun terus menanjak. Harga sewa jeep ini sekitar Rp 600-700 ribu untuk seluruh kawasan Bromo mulai dari Penanjakan, Pasir Berbisik dan Bukit Teletubbies.

Untuk menyaksikan langsung matahari terbit, kami rela menembus dinginnya udara pagi itu sekitar 5 derajat celcius. Gunung Bromo begitu dingin menusuk tulang untuk menjadi saksi pendar warna indah tersebut.

Bagi yang merasa lapar dan haus di sepanjang jalur menuju Penanjakan 1 ini ada banyak yang menjual makan dan minuman hangat. Hanya saja, jika dibiarkan terlalu lama, makanan dan minuman hangat yang tersaji langsung berubah seperti makanan yang baru keluar dari lemari es. Disini ada juga masjid  yang disediakan untuk para muslim yang ingin menunaikan shalat Subuh.

Meskipun masih gelap, udara dingin dan sedikit mengantuk serta jalan yang terus menanjak, tidak menyurutkan langkah kami. Apalagi jalur pendakian untuk melihat matahari terbit ini sudah menggunakan paving block sehingga memudahkan pemburu matahari terbit. Sensasi berada di puncak gunung yang dingin adalah berhembus asap yang keluar dari mulut saat berbicara.

Garis cakrawala mulai berubah warna dan sinar matahari terus menerangi langit, memperlihatkan gunung dan alam sekitar. Pengunjung yang datang melihat matahari terbit dari ufuk timur itu langsung mengabadikan momen sunsrise tersebut. Tanpa dikomando mereka sibuk dengan kamera dan tongsis masing-masing.

Dari puncak Penanjakan 1 Bromo ini kita bisa menikmati matahari terbit dan hamparan pasir yang sangat luas serta pemandangan yang indah dari latar belakang Gunung Semeru, Gunung Bromo dan Gunung Batok dari kejauhan bak negeri di atas awan.

Untuk menghindari kemacetan menuju Puncak Bromo, saya diingatkan hanya mengabadikan momen sunrise ini sampai pukul 05.30 WIB.

Syahdunya Desiran Pasir Berbisik

Meski masih belum puas menikmati matahari terbit, namun kami harus melanjutkan perjalanan menuju puncak Bromo. Ternyata benar yang sudah diwanti-wanti oleh Pak Baston,  kemacetan terjadi di Bromo. Lihatlah barisan ratusan jeep yang tujuannya sama menuju puncak Bromo.

Dari puncak Penanjakan menuju puncak Bromo ini dibutuhkan waktu sekitar 1 jam lamanya.  Menurut Pak Baston, jalanan semakin bertambah padat dua kali lipat saat akhir pekan.

Tiba di kaki Gunung Bromo,  jeep pun diparkir. Terhampar luas lautan pasir dan kami masih harus melanjutkan perjalanan sekitar 2 km menuju puncak Bromo. Suara angin yang menerbangkan pasir dari lautan pasir ini membuatnya dikenal sebagai pasir berbisik. Selain itu lokasi ini juga digunakan sebagai tempat pembuatan film Pasir Berbisik.

 

Pengunjung bisa menyewa kuda hingga tangga di Gunung Bromo atau berjalan kaki di lautan pasir. Untuk sewa kuda ini harganya mulai dari Rp 150.000,- pastikan untuk menawar ya.

Di tengah lautan pasir ini ada Pura Luhur Poten, tempat ibadah umat Hindu Tengger yang masih digunakan hingga saat ini. Selain itu ada warung juga, sehingga bagi yang pejalan kaki yang lelah bisa beristirahat sejenak sembari makan pisang goreng dan minum teh manis panas. Selain itu jangan khawatir disini juga tersedia toilet yang bersih.

Setelah melintasi lautan pasir, saya harus menaiki 250 anak tangga  untuk sampai tiba di puncak Bromo.  Tangga yang curam membuat saya harus menghentikan langkah. Ternyata banyak juga pengunjung lain yang berhenti untuk beristirahat sejenak. Sesekali saya melihat ke belakang dan terlihat lautan pasir berpadu dengan hutan pinus yang begitu indah dibelakangnya.

 

Akhirnya saya sampai di puncak gunung Bromo. Rasa capai itu pun terbalas sudah setelah melihat indahnya panorama dari puncak Bromo ini. Kawah Bromo ini pun terlihat begitu indahnya.

 

Kami diingatkan untuk segera turun karena asap belerang semakin membumbung tinggi.  Apalagi karena oksigen yang sudah terus  menipis karena tercampur asap belerang yang keluar dari kawah Bromo.

Ternyata impian itu baru terealisasi 16 tahun kemudian, saat jutaan orang sudah menyapa dan mencium wangi Bromo. Namun saya bersyukur bisa menjejakkan kaki ke puncak Bromo. Tidak ada kata terlambat, masih banyak destinasi wisata di Indonesia yang belum dikunjungi.  Mari menjelajahi nusantara.

Disclaimer : Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh ID Corners dan Skyscanner.

TV journalist, traveler, writer, blogger, taekwondo-in and volunteer. Bookworm, coffee addict, chocolate and ice cream lovers

13 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

HTML Snippets Powered By : XYZScripts.com
Skip to toolbar