Indonesia · Jakarta · Personal

Demo 4 November, Aksi Besar Bela Islam

Sharing is caring!

Demo 4 November (411) memang sudah berlalu, namun banyak sekali hikmah di balik peristiwa tersebut. Umat Islam di Indonesia menunjukkan pada mata dunia dalam Aksi Bela Islam II. Aksi ini sendiri merupakan aksi besar lanjutan pada 14 Oktober.

Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dianggap telah menistakan ayat suci Al-Quran dan menghina ulama saat berkunjung ke Pulau Seribu dengan mengutip Surat Al-Maidah Ayat 51. Ahok berkata ” Jadi jangan percaya sama orang, kan bisa aja dalam hati kecil bapak ibu nggak bisa pilih saya, ya kan. Dibohongin pakai surat al Maidah 51, macem-macem itu. Itu hak bapak ibu, jadi bapak ibu perasaan nggak bisa pilih nih karena saya takut masuk neraka, dibodohin gitu ya…  

Ucapan Ahok tentang arti surat Al-Maidah ayat 51 tersebut berbuntut panjang, ribuan umat Islam dari penjuru negeri menuntut ahok agar diadili dan diproses secara hukum. Dan Polri akhirnya menetapkan Ahok sebagai tersangka, setelah melewati serangkaian proses gelar perkara yang dilakukan secara terbuka (live).

Aksi Bela Islam 4 November ini membuktikan bersatunya umat Islam membela dan melindungi Al-Qur’an sebagai sumber ajaran agama Islam. Mata dunia terbuka, di saat umat Islam di Indonesia diterpa isu perpecahan.

Aksi Bela Islam ini juga menunjukkan wajah asli para media, karena ada yang memberitakan sesuai fakta, namun ada media yang memelintir menciptakan opini yang berbeda. Namun masyarakat saat ini sudah cerdas dan dapat melihat secara objektif hingga terjadi Demo 4 November.

Apalagi teknologi yang makin canggih, membuat kita dengan mudah bisa mengakses informasi. Bagi yang ingin mencari informasi seputar persiapan maupun jalannya aksi bisa mengakses Demo 4 November Okezone. Disini terangkum seluruh informasi seputar aksi tersebut.

Pada 4 November 2016, jutaan umat Islam turun ke jalan melakukan demonstrasi di depan Istana Negara. Ini merupakan parlemen jalanan yang terbesar di dalam sejarah.

Dilansir dari Demo 4 November Okezone. Berbagai persiapan dilakukan untuk menghadapi Aksi Bela Islam. Belasan ribu personel gabungan dari Polri dan TNI disiagakan untuk melakukan pengamanan aksi unjuk rasa yang akan bertolak ke Jakarta pada Jumat 4 November 2016.

Tidak hanya itu persiapan para massa aksi juga dilakukan dengan maksimal. Mulai dari pesan untuk berhati-hati dengan adanya penyusup dan tidak terprovokasi pihak luar.

Terbukti  jutaan massa dari berbagai ormas Islam di Indonesia yang melakukan aksi  sejak selesai shalat Jum’at, berlangsung damai dan tertib. Besarnya jumlah massa membuat pihak kepolisian menempatkan belasan ribu personelnya di berbagai titik dan lokasi yang menjadi sasaran demo. Hal tersebut dilakukan agar mencegah terjadinya kerusuhan dalam unjuk rasa.

Ketua Pembina Gerakan Nasional Pembela Fatwa (GNPF)-MUI, Habib Rizieq Shihab mengatakan, jutaan orang aksi damai 4 November di seluruh Indonesia kecewa dengan sikap Presiden Joko Widodo (Jokowi).

“Massa aksi damai sangat kecewa dengan tidak ada hadirnya beliau di tengah-tengah kami,” kata Habib Rizieq di Jakarta Pusat, Sabtu (5/11/2016).

Massa aksi damai hanya bertemu dengan beberapa menteri dan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK). Padahal, tujuan mereka ke Istana Merdeka untuk menyampaikan aspirasi secara langsung ke Jokowi.

Demo 4 November, Massa Bentangkan Bendera Merah Putih Raksasa

“Massa aksi damai ini ingin bertemu dengan Pak Jokowi agar didengar keluhannya tentang penistaan agama yang di lakukan oleh Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), agar cepat di proses hukum,” ujarnya.

Alih-alih menemui massa aksi, Presiden Jokowi malah membuat pernyataan bahwa demo 4 November ditunggangi kepentingan politik.

“Kami tegaskan tidak ada kepentingan politik. Ini murni membela agama dengan adanya penistaan agama yang dilakukan oleh Ahok,” tutupnya.

Demo FPI (foto: Reuters)

Demo FPI (foto: Reuters)

Wilayah Bundaran HI bersih dari aktivitas demonstrasi, semua terpusat di Istana Merdeka. Meski demikian, aparat keamanan tetap siaga di kawasan tersebut.

Kanit Sabhara Polsek Menteng P Siregar mengatakan, kekuatan aparat yang terdapat di Bundaran HI terdiri dari tiga kompi pasukan beserta kekuatan-kekuatan lainnya.

“Sampai saat ini kami di percaya dari Polsek Menteng menjaga keamanan dan ketertiban di wilayah sekitar HI ini, menjaga keamanannya yang diperbantukan oleh saudara kami, satu kompi dari Siliwangi, satu kompi dari Brimob dan satu kompi dari Sabhara Polda,” kata Siregar saat ditemui Okezone di Bundaran HI, Jakarta Pusat, Jumat (4/11).

Lautan Umat Muslim Tanah Air Bersatu di Demo 4 November

“Dari Polsek Menteng 20 orang, dari Polda Metro gabungan 50 orang,” lanjutnya.

Siregar mengungkapkan, sampai saat ini wilayah Bunderan HI sangat aman, tertib dan tentram. Tak hanya itu, ia juga secara persuasif mengimbau peserta atau penonton aksi yang berada di jembatan penyebrangan yang terdapat di wilayah itu untuk turun. Sebab, dirinya tak ingin ada kejadian negatif yang terjadi.

Meski akhirnya aksi damai ini terpaksa bubar karena adanya oknum luar yang menyusup dan memprovokasi massa. Sehingga terjadinya bentrok dan kerusuhan. Namun menurut saya, jika melihat lebih lanjut, aksi yang disebut-sebut dengan jumlah massa terbanyak tidaklah berakhir rusuh hanya ini bentuk skenario pembubaran massa.

Direktur Eksekutif Forum Kajian Politik Vox Populi, Pangi Syarwi Chaniago mengatakan, demo tersebut memberi catatan tersendiri karena diikuti banyaknya massa.

Pangi Syarwi Chaniago meragukan jika ada yang mendanai gerakan massa sebanyak itu. “Saya rasa tidak masuk akal saja, enggak mungkin ada yang mampu mendanai gerakan 4 November dengan mendatangkan massa dalam jumlah besar tersebut,” ujarnya.

Massa demo 4 November 2016 saat menuju ke Gedung DPR RI di Jakarta (Rosa/Antara)

Gerakan rakyat tersebut dinilai didorong oleh keinginan dan keyakinan kuat dari umat Islam untuk menuntut penuntasan kasus dugaan penistaan agama yang dialamatkan ke cagub Jakarta Basuki alias Ahok.

Pangi membandingkan demo 4 November dengan aksi reformasi 1998. Menurutnya, peristiwa 1998 jumlah massa yang didominasi mahasiswa terlihat tidak sebanyak aksi umat Islam 4 November.

“Bedanya cuma massa 4 November terkonsentrasi di Jakarta. Kalau aksi 98 meluas ke berbagai daerah karena menuntut reformasi,” terang Pangi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *