Event,  Lifestyle,  Palembang

Coffee Jazz Festival, Ketika Kopi & Jazz Menyatu di Tepian Sungai Musi

Sharing is caring!

Ada beribu filosofi dari secangkir kopi tergantung dari sisi manapun kita menilainya. Aroma khas dari bubuk kopi yang berpadu dengan air panas begitu semerbak seolah menenangkan jiwa. Secangkir kopi bisa membawa kita tenang dan melupakan segala kepenatan hidup yang mendera.

Begitulah aroma semerbak dari secangkir kopi yang kuhirup sambil mendengarkan alunan musik jazz dan syahdunya sore ditepian Sungai Musi.  Bagaimana tidak dimanjakan oleh tiupan angin sepoi-sepoi dari Sungai Musi dan alunan Musik jazz seolah melupakan segala penat.

Hari itu saya berada di Coffee Jazz Festival, event yang digagas oleh anak muda kreatif asal Sumatera Selatan dalam naungan Forum Pesona Sriwijaya. Event yang digelar di Klenteng Soei Goeat Kiong 10 Ulu Palembang, selama 2 hari sejak 9-10 Desember 2017 ini difasilitasi oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumatera Selatan.


Event ini digelar sebagai salah satu cara mengenalkan kopi khas Sumatera Selatan ke khalayak ramai. Tanah Sumatera Selatan menghasilkan begitu  banyak kopi dengan jenis dan cita rasa yang beragam. Seperti kopi Semendo, kopi Ranau hingga kopi Besemah. Jika dulu kopi Semendo terkenal dengan kopi robustanya, kini kopi semendo sudah memiliki jenis kopi Arabica.

Pihak panitia sengaja tidak mengundang para kedai modern berpartisipasi karena ingin mengangkat kopi Sumsel. Terbukti banyak pengusaha lokal yang menjual biji kopi khas Sumsel ikut ambil bagian dalam event ini.

 

Dalam event ini pihak panitia juga sudah menyediakan ketek atau perahu kecil yang siap mengantarkan pengunjung hingga lokasi acara secara cuma-cuma.  Ada beragam kegiatan yang digelar mulai dari  workshop barista untuk SMK, lomba aeropress Coffee, Workshop fotografi kopi, hingga permainan tradisional.

 

Coffeetography

Saya sengaja hadir untuk belajar coffee fotography dari seorang coffeetographer handal @joasvd yang mengajarkan tentang bagaimana mengambil foto kopi yang menarik. Coffee fotography workshop tersebut adalah rangkaian Coffee Jazz Festival. Budaya minum kopi menjadi fenomena yang merebak ke segala aspek kehidupan. Bukan hanya sekedar duduk dan menikmati cita rasa kopi. Ternyata kini begitu menyebar luas ke ranah kultur dan sosial.

Kopi pun menjadi objek foto yang menarik,tak hanya bagi mereka penikmati kopi aktif atau mereka yang bekerja di industri kopi seperti barista dan pemilik kedai kopi. Tapi juga bagi para fotografer yang ikut  berlomba-lomba menunjukkan hasil foto kopi terbaik mereka.

Seperti halnya JoasVD yang mengkhususkan diri dalam fotografi kopi ini, begitupun dengan akun-akun lain yang bermunculan. Sehingga melahirkan fotografi kopi dan kini menasbihkan dalam sub-bidang: coffee photography, fotografi yang mengkhususkan kopi dan yang berkaitan dengan kopi sebagai objek fotografi.

Hingga kini pun menjadi misteri siapa yang melahirkan ataupun menyebut dan menamakan coffee photography pertama kali. Kini para coffeetographer sebutan untuk mereka yang mengkhusukan dalam bidang fotografi kopi ini semakin berkreasi mengabadikan proses menjadikan secangkir kopi tersebut.

Musik Jazz dan Nobar Film Kopi

Para pengunjung Coffee Jazz Festival pun diajak menikmati film tentang kopi berjudul  ‘Aroma of Heaven’. Film  besutan Budi Kurniawan ini mengisahkan tentang biji kopi itu memiliki sejarah panjang untuk bisa tersaji di atas meja. Ada banyak hal tentang kopi yang belum kita ketahui mulai dari sejarah kopi tersebut berada di tanah Indonesia, bagaimana proses tanam hingga produksinya, serta makna kultural dibalik biji kopi tersebut. Kopi kini bukan sekedar menjadi komoditas tapi sudah menjadi tradisi, budaya dan gaya hidup.

Tidak hanya menikmati kopi, menonton film tentang kopi, kami pun dimanjakan dengan lantunan musik jazz dari grup jazz asal Palembang yang tergabung dalam Palembang Jazz Community.

Melepas Lampion

Akhirnya yang ditunggu-tunggu tiba yakni pelepasan lampion di Coffee Jazz Festival. Panitia sudah menyiapkan lampion terbang alias lampion Kongming. Lampion ini seperti balon udara kecil, ringan dan terbuat dari kertas tisu,  bambu dan rangka kawat. 

Untuk menerbangkan lampion, pertama-tama harus membuka lampion dan mengibaskan lampion tersebut agar setiap sudut terbuka alias tidak menempel. Hal yang paling menyenangkan adalah saat lampion ini diterbangkan. Sebelumnya lilin yang diikatkan ditengah lampion dibakar setelah gas memenuhi seluruh lampion, barulah lampion bisa diterbangkan.

Tidak sekadar bersenang-senang, kita harus berhati-hati memperhatikan arah angin dan keseimbangan dari lampion tersebut agar terhindar dari bahaya kebakaran. Dan ternyata ada makna dari lampion yang dilepaskan ke udara ini. Bagi sebagian orang memakai sebagai simbol jika kita melepaskan hal-hal negatif yang ada di dalam diri. Bahkan setiap lampion yang diterbangkan ini berisi harapan agar kehidupan kedepannya menjadi lebih baik. Semoga 2018 saya bisa menikah dan melepas masa lajang (begitu ucap dalam hati saya).

Bersama Ibu Irene Camelyn Sinaga, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumsel

Seru banget seharian mencicipi kopi yang ada di Coffee Jazz Festival sekaligus belajar fotografi kopi, duh coba event ini satu minggu yang digelar makin banyak pengetahuan tentang kopi yang didapatkan. Kopi itu bukan hanya tentang menikmati rasa tapi belajar memahami makna dibalik setiap proses hingga tersaji di hadapan kita, mulai dari proses menanam, roasting hingga brewing kopi tersebut. Lagaknya sudah mengerti tapi masih belum paham sama sekali, yuk ah menyesap kopi dulu sampai bertemu di event seru lainnya ya.

TV journalist, traveler, writer, blogger, taekwondo-in and volunteer. Bookworm, coffee addict, chocolate and ice cream lovers

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

HTML Snippets Powered By : XYZScripts.com
Skip to toolbar