Indonesia,  Palembang,  Travelling

Benteng Kuto Besak Palembang, Warisan Kesultanan Palembang Darussalam

Sharing is caring!

Kota Palembang sebagai kota tertua di Indonesia menyimpan banyak jejak peninggalan bersejarah. Selain bisa berwisata kuliner, pengunjung bisa wisata alam,  wisata budaya hingga wisata sejarah. Salah satu bukti peninggalan sejarah yang hingga kini masih bisa dinikmati yakni Benteng Kuto Besak Palembang.

Benteng yang terletak menghadap Sungai Musi ini terbuat dari batu setinggi 10 meter dan yang uniknya benteng yang masih berdiri kokoh di tengah kota Palembang ini tidak menggunakan semen sebagai perekat antar batu namun menggunakan putih telur. Benteng Kuto Besak atau biasa disebut BKB ini adalah saksi perlawanan masyarakat kota Palembang dari penjajahan Belanda dan Jepang.

Sejarah Benteng Kuto Besak

Benteng Kuto Besak

Benteng Kuto Besak merupakan warisan Kesultanan Palembang Darussalam yang melindungi kota Palembang sejak abad ke 17. Benteng ini dibangun oleh Sultan Mahmud Badaruddin I untuk menggantikan Keraton Kuto Lamo Tua karena luasnya yang tidak begitu besar. Kini Kuto Lamo dijadikan sebagai Museum Sultan Mahmud Badaruddin II.

Benteng yang dibangun selama 17 tahun (1780-1797) ini terdapat 3 pintu masuk di 3 penjuru mata angin, mulai dari pintu sisi timur, barat, hingga selatan dan terdapat bastion yang sama bentuknya, di setiap pintunya sehingga pintu masuk ini lebih dikenal sebagai lawang buritan. Dengan arsitektur bernuansa daerah Palembang berbeda dengan benteng lain bergaya Eropa. Pasalnya benteng ini dibangun oleh pemerintah Sultan Mahmud Badaruddin,  dengan tenaga dan oleh bangsa sendiri.

Benteng Kuto Besak

Ada kisah menarik saat Sultan Mahmud Badaruddin I mengajak penduduk lokal dan etnis Tionghoa membangun benteng ini, pengawasan konstruksi dipercayakan pada seorang pengawas dari Cina dan pembangunan dilakukan oleh penduduk lokal. Dan terbukti keharmonisan itu masih terjaga di Palembang sebagai salah satu warisan  seperti di meriahnya perayaan Cap Go Meh dan Imlek (Tahun Baru Cina) di Palembang.
Benteng dengan panjang 288,75 meter, lebar 183,75 meter, tinggi 9,99 meter dan tebal 1,99 meter ini diresmikan sebagai pusat pemerintahan Kesultanan Palembang Darussalam pada 21 Februari 1797. Benteng ini berbatasan langsung dengan Sungai Musi di sebelah Selatan, sungai Kapuran di sebelah Utara,  sungai Sekanak di sebelah Barat dan sungai Tengkuruk di sebelah Timur. Wilayah Palembang ini awalnya seperti pulau.

Benteng Kuto BesakKarena lokasinya yang sangat strategis melindungi wilayah Palembang membuat Belanda menyerbu Benteng Kuto Besak untuk merebut Palembang. Saat peperangan pada 1819, terdapat 129 pucuk meriam di atas tembok Benteng Kuto Besak. Sedangkan pada 1821, hanya ada 75 pucuk meriam di dinding Kuto Besak dan 30 pucuk di sepanjang tembok yang menghadap sungai Musi.

Namun akhirnya Belanda berhasil merampas Benteng Kuto Besak pada tahun 1821 dan membuang Sultan Mahmud Badaruddin II ke Maluku yang menandai berakhirnya era Kesultanan Palembang Darussalam. Sebagai tanda pendudukan Belanda hingga kini kita bisa melihat ukiran bergaya kolonial di Benteng Kuto Besak.

Transportasi

 

Benteng Kuto Besak ini berada di pusat kota, sehingga sangat mundah dijangkau baik dengan menggunakan taksi maupun transportasi umum seperti angkot yang melewati di kawasan bersejarah tersebut atau bisa juga naik Trans Musi untuk menuju Benteng Kuto Besak.

Selain bisa menikmati wisata sejarah, kita bisa bersantai di Plaza Benteng Kuto Besak dan wisata Sungai Musi yang berada persis didepan benteng tersebut.

Selamat berwisata sejarah ya

TV journalist, traveler, writer, blogger, taekwondo-in and volunteer. Bookworm, coffee addict, chocolate and ice cream lovers

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

HTML Snippets Powered By : XYZScripts.com
Skip to toolbar