Review,  Review Film

Ada Surga di Rumahmu

Sharing is caring!

Saya mengajak ayah dan ibu menonton film Ada Surga di Rumahmu yang tayang serentak di Indonesia pada 2 April 2015. Film yang diproduksi Mizan Production ini sudah screening sebelumnya pada Selasa, 31 Maret 2015 di Palembang, tepatnya di  Cinema21 Palembang Indah Mall (PIM).

Ayah dan Ibu

Sengaja saya mengajak ayah dan ibu untuk menonton film bergenre drama keluarga tersebut. Pasalnya film yang terinspirasi dari buku best seller karya Ustadz Ahmad Al Habsy berhasil menguras air mata. Bagi saya yang sangat mudah tersentuh alias sensitif, melihat adegan di film tersebut, tak kuasa air mata pun berlinang.

Sutradarai Aditya Gumay berhasil mengemas dengan apik film yang mengisahkan pengorbanan dan kasih sayang seorang ibu kepada anaknya. Karena setting film ini sebagian besar di Palembang, yang menyajikan keindahan Sungai Musi, perahu dan rumah-rumah terapung di tepian Sungai Musi. Bahkan dialog di film ini pun banyak menggunakan bahasa Palembang sehingga membuat film ini sangat dekat dengan wongkito.

Sumber: Cinema21

Film yang ditulis penulis skenario, Oka Aurora ini memberikan pelajaran berharga, betapapun banyak ibadah yang kita lakukan, umrah atau haji berulang kali, bersedekah tak terhitung jumlahnya, namun jika melupakan untuk beramal kepada ibu kita, semuanya percuma. Tak perlu mencari surga yang jauh, karena surga itu ada di rumah kita.

Betapapun banyaknya hal yang kita berikan kepada orangtua kita, uang, rumah, kasih sayang sekalipun, tak akan pernah bisa menggantikan ataupun membayar kasih sayang dan perjuangan orangtua kita. Bahkan kita takkan pernah bisa menggantikan setetes darah yang keluar dari rahim ibu kita, saat melahirkan kita.

Surga itu begitu dekat. Tapi, mengapa kita sibuk mengejar yang jauh?

Ibu dan Saya

Film yang dibintangi oleh aktor pendatang baru dan seniorseperti Husein Idol, Nina Septiani, Zee Zee Shahab hingga Elma Theana sangat layak untuk ditonton bersama keluarga, terutama ayah dan ibu.

Pernahkah kita dengan tulus mendo’akan ayah dan ibu? Atau malah kita melupakan ayah dan ibu karena sibuk bekerja, sibuk dengan teman-teman kita  ataupun sibuk dengan keluarga kita.

TV journalist, traveler, writer, blogger, taekwondo-in and volunteer. Bookworm, coffee addict, chocolate and ice cream lovers

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

HTML Snippets Powered By : XYZScripts.com
Skip to toolbar